Sabtu, 20 April 2013

Jejak-Jejak Cinta

Jejak-Jejak Cinta



Hadir tanpa kata
Ada tanpa suara
Itu misteri hari kemarin
Cinta nama misteri itu

Hadir dalam rupa
Ada dalam sesosok pribadi
Itu rahasia hari kemarin
Cinta nama rahasia itu

Hadir di hari kemarin
Ada hingga saat ini
Itu faktum kehidupan 
Cinta nama faktum itu

Hadir dalam pribadi
Ada dalam diri
Itu bukti cinta
Tony Kapitan-lah bukti cinta itu

Jejak-Jejak cinta terangkai kini
Dalam rentetan kehadiran Tony terlukis jejak cinta
Dalam setiap adanya Tony tertinggal jejak cinta
Abadinya jejak-jejak cinta ini

Mama dan bapa, segalanya bagiku..... Mat berbahagia bersamaku




00:00, 21 April 2013
Dalam kesendirian di usia baru 
berkat kehadiran Enjy


 


April Dalam Keabadian


 Sajak Cinta Di Atas Badai

Never Ending Love For You

“Hentikan pembicaraan itu! Negeri ini bukan negeri koruptif!”
“Bukan negeri koruptif? Lalu mau dibilang negeri apa? Negeri bebas korupsi? Hei, anak muda, asal kamu tahu, negeri kita ini telah dikenal dunia sebagai salah satu negeri yang memiliki indeks tinggi dalam hal korupsi. Banyak artikel berbasis data akurat dalam media massa yang menegaskan bahwa negeri ini adalah negeri koruptif”. 
“Aku tahu itu pak. Aku tahu bahwa korupsi sedang beranak pinak di negeri ini. Tapi sebagai generasi muda pewaris masa depan bangsa, aku mau bilang negeri ini bukan negeri koruptif”
“Apa maksudmu, hai anak muda?”
“Tiada maksud lain, selain seruan lantang di tengah amukan badai korupsi. ”Negeriku bukanlah negeri koruptif. Tiada pernah ia tertakdir sebagai ibu yang jahat bagi anak-anaknya. Sedari awal keberadaannya, ia telah menyiapkan susu dan madu berlimpah bagi anak cucunya. Ia ibu terbaik bagi setiap buah hatinya, termasuk aku dan engkau. Mengapa engkau meremehkannya? Mengapa engkau mengatai-ngatai dia seperti itu? Mari berkata sopan tentangnya. Mari berlaku adil untuknya. Ia bukan negeri koruptif…!!!”
“Terima kasih untuk sajak indahmu. Aku bahagia mendengarnya, tapi sayang, syair-syair itu tak lebih dari pelipur lara anak-anak negeri. Negeri yang sudah setua ini dalam hal keburukan, tiadalah mungkin disebut sebagai yang baik. Lebih dari itu kamu mesti tahu, negeri kita sudah di ambang kehancuran”.
   “Jangankan di ambang kehancuran pak. Di atas puing-puing reruntuhannya sekalipun, aku tetap mendeklamasikan sajakku untuknya sebagai yang terbaik”.
Mendengar aku menyambung demikian, Pak Andre, dosen sosiologi itu makin berang. Ia melepaskan kaca mata gula lempengnya dan mendekat ke arahku. Semua teman pada posisi takut. Maklum, dosen yang sudah sedikit pikun ini cepat sekali naik pitam. 
“Dasar anak muda! Hentikan idealisme itu detik ini juga. Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk berutopia seperti itu. Lebih baik, kamu ikut kata-kata bapak daripada bapak mengusirmu keluar dari ruang kuliah”.
“Bapak dosen yang aku kagumi. Berulang kali bapak memotivasiku untuk kreatif, kreatif dan kreatif menyikapi realitas sosial yang ada sambil terus mengembangkan daya kritis demi menjadi generasi muda yang unggul. Dan apa yang aku lakukan ini adalah menuruti kata-kata bapak”.
Ia terdiam lalu kembali mengenakan kaca matanya.
“Aku sadar. Badai korupsi sedang mengamuk. Bisa jadi negeri kita hampir runtuh seperti kata-kata bapak karena amukan badai itu. Tapi komitmentku sudah utuh. Di atas badai besar ini, aku menuliskan sajak cinta untuk negeriku”.
“Jadi anda sedang menunjukan optimismemu akan masa depan cerah negeri ini?”
Kata-kata lunak sang dosen kilerku itu membuat aku makin PD alias percaya diri.
“Yah..untuk rasa optimis ini aku persembahkan sajakku. Untuk wujudkan harapan teguhku, jiwa dan raga nan rapuh ini ku pertaruhkan. Mati demi mulianya ibu pertiwi sama dengan hidup selamanya. Dan satu lagi. Negeri ini , negeri bebas korupsi. Sebab negeri ini tak pernah berkorupsi. Yang melakukan korupsi adalah anak-anak ibu pertiwi yang nota bene tak lagi berkemanusiaan. Singkirkan saja mereka dari pangkuan ibu pertiwi ini dan negeriku yang mulia sedari dulu dikagumi seantero dunia”.
“Anda benar anak muda! Kau rajawali muda ibu pertiwi. Tunjukan kebolehanmu dan serukan sajak cintamu hingga ujung dunia”, tegas pak Andre penuh rasa bangga.
Serempak semua teman bertepuk tangan.
Aku bangun dari tempat dudukku. Sembari memberi hormat, aku berseru, “Dan kau negeriku…hari esokmu pasti cerah. Malam segera datang dan membawa badai ini pergi, sebab tunas-tunas muda bangsa sudah seia-sekata. Di tengah badai kami bersajak. Negeri kami bukan negeri badai. Negeri kami bebas korupsi. Untuk kedamaiannya kami berbakti. Untuk sukacitanya kami mengabdi. Tamatnya korupsi tugas mulia kami. Atas nama cinta sejati kami berbakti”.