Sajak Cinta Di Atas Badai
 |
| Never Ending Love For You |
“Hentikan pembicaraan
itu! Negeri ini bukan negeri koruptif!”
“Bukan negeri koruptif?
Lalu mau dibilang negeri apa? Negeri bebas korupsi? Hei, anak muda, asal kamu
tahu, negeri kita ini telah dikenal dunia sebagai salah satu negeri yang
memiliki indeks tinggi dalam hal korupsi. Banyak artikel berbasis data akurat dalam
media massa yang menegaskan bahwa negeri ini adalah negeri koruptif”.
“Aku tahu itu pak. Aku
tahu bahwa korupsi sedang beranak pinak di negeri ini. Tapi sebagai generasi
muda pewaris masa depan bangsa, aku mau bilang negeri ini bukan negeri koruptif”
“Apa maksudmu, hai anak
muda?”
“Tiada maksud lain,
selain seruan lantang di tengah amukan badai korupsi. ”Negeriku bukanlah negeri koruptif. Tiada pernah ia tertakdir sebagai
ibu yang jahat bagi anak-anaknya. Sedari awal keberadaannya, ia telah
menyiapkan susu dan madu berlimpah bagi anak cucunya. Ia ibu terbaik bagi
setiap buah hatinya, termasuk aku dan engkau. Mengapa engkau meremehkannya?
Mengapa engkau mengatai-ngatai dia seperti itu? Mari berkata sopan tentangnya.
Mari berlaku adil untuknya. Ia bukan negeri koruptif…!!!”
“Terima kasih untuk
sajak indahmu. Aku bahagia mendengarnya, tapi sayang, syair-syair itu tak lebih
dari pelipur lara anak-anak negeri. Negeri yang sudah setua ini dalam hal
keburukan, tiadalah mungkin disebut sebagai yang baik. Lebih dari itu kamu
mesti tahu, negeri kita sudah di ambang kehancuran”.
“Jangankan di ambang kehancuran pak. Di atas
puing-puing reruntuhannya sekalipun, aku tetap mendeklamasikan sajakku untuknya
sebagai yang terbaik”.
Mendengar aku
menyambung demikian, Pak Andre, dosen sosiologi itu makin berang. Ia melepaskan
kaca mata gula lempengnya dan mendekat ke arahku. Semua teman pada posisi
takut. Maklum, dosen yang sudah sedikit pikun ini cepat sekali naik pitam.
“Dasar anak muda!
Hentikan idealisme itu detik ini juga. Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk
berutopia seperti itu. Lebih baik, kamu ikut kata-kata bapak daripada bapak
mengusirmu keluar dari ruang kuliah”.
“Bapak dosen yang aku
kagumi. Berulang kali bapak memotivasiku untuk kreatif, kreatif dan kreatif
menyikapi realitas sosial yang ada sambil terus mengembangkan daya kritis demi
menjadi generasi muda yang unggul. Dan apa yang aku lakukan ini adalah menuruti
kata-kata bapak”.
Ia terdiam lalu kembali
mengenakan kaca matanya.
“Aku sadar. Badai
korupsi sedang mengamuk. Bisa jadi negeri kita hampir runtuh seperti kata-kata
bapak karena amukan badai itu. Tapi komitmentku sudah utuh. Di atas badai besar
ini, aku menuliskan sajak cinta untuk negeriku”.
“Jadi anda sedang
menunjukan optimismemu akan masa depan cerah negeri ini?”
Kata-kata lunak sang
dosen kilerku itu membuat aku makin PD alias percaya diri.
“Yah..untuk rasa
optimis ini aku persembahkan sajakku. Untuk wujudkan harapan teguhku, jiwa dan
raga nan rapuh ini ku pertaruhkan. Mati demi mulianya ibu pertiwi sama dengan
hidup selamanya. Dan satu lagi. Negeri ini , negeri bebas korupsi. Sebab negeri
ini tak pernah berkorupsi. Yang melakukan korupsi adalah anak-anak ibu pertiwi
yang nota bene tak lagi berkemanusiaan. Singkirkan saja mereka dari pangkuan
ibu pertiwi ini dan negeriku yang mulia sedari dulu dikagumi seantero dunia”.
“Anda benar anak muda! Kau
rajawali muda ibu pertiwi. Tunjukan kebolehanmu dan serukan sajak cintamu
hingga ujung dunia”, tegas pak Andre penuh rasa bangga.
Serempak semua teman
bertepuk tangan.
Aku bangun dari tempat
dudukku. Sembari memberi hormat, aku berseru, “Dan kau negeriku…hari esokmu
pasti cerah. Malam segera datang dan membawa badai ini pergi, sebab tunas-tunas
muda bangsa sudah seia-sekata. Di tengah badai kami bersajak. Negeri kami bukan negeri badai. Negeri kami bebas
korupsi. Untuk kedamaiannya kami berbakti. Untuk sukacitanya kami mengabdi. Tamatnya
korupsi tugas mulia kami. Atas nama cinta sejati kami berbakti”.