Selamat Berpesta Demokrasi
Hari ini, Senin, 18 Maret 2013, seluruh
masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) merayakan pesta demokrasi. Karena ini
sebuah pesta, saya yakin segenap masyarakat NTT pasti bersorak riang dalam merayakannya.
Setiap wajah pasti ceria dan hati saban insan dipenuhi kegembiraan yang tiada
duanya. Maklum ini sebuah pesta langka sekaligus unik di bumi Flobamora. Saya
menyebutnya langka karena pesta yang melibatkan seluruh masyarakat NTT ini
hanya dapat dilakukan setelah lima tahun. Artinya setiap lima tahun barulah
diselenggarakan pesta ini. Alasan lain saya menyebutnya langka adalah kesamaan
perlakuan untuk semua orang yang datang ke sana. Tidak ada kursi khusus untuk
kaum intelek, pejabat dan orang besarnya lainnya di tempat itu. Semua yang
datang, entah itu rakyat biasa, ataupun pejabat, termasuk orang-orang khusus
yang diayubahagiakan mendapat perlakuan yang sama. Sementara itu, keunikannya
terletak pada tiadanya makanan dan minuman, tiada musik dan MC khusus, namun
semua orang berbondong-bondong datang dan tersenyum sambil mengambil bagian
secara teratur dalam pesta tersebut.
Demikian pesta demokrasi yang
dirayakan segenap masyarakat Nusa Tenggara Timur sepanjang hari ini. Bisa jadi
ada yang tidak setuju ketika saya menyebut acara hari ini sebagai sebuah pesta
karena tiadanya makanan dan minuman, pun musik di sana, tapi saya tetap pada
pendirian. Sambil berpijak pada hakekat dari sebuah pesta: kegembiraan seluruh
anggota pesta di tengah-tengah orang-orang tertentu yang menajdi fokus pesta,
saya menyebut pemilihan gubernur dan wakil gubernur hari ini sebagai sebuah
pesta. Semua orang dalam kebebasannya sebagai warga masyarakat datang ke Tempat
Pemungutan Suara (TPS) masing-masing. Atas dasar kebebasannya, setiap warga
yang telah memenuhi syarat pemilihan tersenyum gembira sambil menjatuhkan
pilihan bagi salah satu calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur
(cawagub) dari lima pasangan cagub-cawagub yang ditetapkan Komisi Pemilihan
Umum (KPU) NTT. Tindakan memilih seperti ini menjadi kegiatan pokok dari pesta
itu. Itulah pesta demokrasi yang saya sebut sebagai pesta langka dan unik.
Sekalipun pestanya singkat karena
hanya mencontreng gambar salah satu cagub dan cawagub lalu sesudah itu
memasukan gambar tersebut ke dalam kota pemilihan yang telah disiapkan petugas
TPS dan selesai, namun saya tetap mengatakan ini sebuah pesta terakbar
sepanjang lima tahun dan sangat penting. Contreng singkat itu memastikan
bahagia dan tidak bahagianya masyarakat Flobamora selama lima tahun ke depan.
Karenanya ia tidak bisa dianggap remeh. Dalam hal ini, segenap masyarakat NTT
yang berpesta tidak boleh sekedar memilih. Mereka harus memilih dengan tulus
dan iklas. Dalam tingkatan yang lebih bermartabat, saya mau katakan bahwa mereka
harus memilih sebagai seorang warga negara yang bermartabat, sehingga ia tidak
bisa mendasarkan pilihannya pada suku, agama, ras, golongan, bahkan partai
sekalipun. Apalagi kalau mereka memilih
calon tertentu dengan iming-iming jabatan, uang dan berbagai jaminan lainnya.
Membantu setiap pembaca memikirkan lebih jauh alasan pernyataan ini, saya boleh
bertanya: Adakah harga diri anda dan saya lebih rendah dari sejumlah rupiah dan
jabatan tertentu? Mungkinkah dengan fanatisme religius dan primordialisme dalam
memilih calon tertentu, anda dan saya benar-benar tampil utuh sebagai warga
masyarakat NTT yang baik? Adakah memilih dengan pendasaran seperti itu, anda
dan saya benar-benar bergembira di hari istimewah ini?
Terlepas dari jawabanmu, saya
berani katakan, yang menjatuhkan pilihan dengan iming-iming tertentu tidak
pernah mengalami kegembiraan sejati dalam pesta demokrasi ini. Juga yang memilih berdasarkan fanatisme religius, suku,
dan golongan partainya, pasti tidak benar-benar bersukacita di hari ini.
Bayangkan saja, kalau ia seorang fanatik figur protestan (karena ia adalah
seorang protestan yang sangat fanatik) berada persis di TPS yang mayoritasnya
non Protestan, adakah ia akan tersenyum di sana? Bukannya dengan wajah yang tak
jelas ia mencotreng di TPS tersebut lalu sesudah itu cepat-cepat ia kembali ke
rumahnya karena tidak nyaman berada di tempat itu? Ini baru saat pencoblosan.
Bisa dibayangkan lagi bagaimana ia akan stress selama lima tahun kalau yang
memenangkan pemilihan tersebut adalah figur non protestan. Contoh lain lagi,
anda dan saya bisa merasakan bagaimana tekanan batin seorang pemilih yang
fanatik figur Timor, manakala sesudah pemilihan itu, gubernurnya berasal dari
daratan Flores. Jika demikian, bagaimana seharusnya seorang pemilih merayakan
pesta demokrasi ini?
Tidak lain dan tidak bukan, ia
memilih berdasarkan suara hatinya. Ia memilih dengan bebas sebagai seorang
warga negara yang matang. Tentu dalam kebebasannya, ia harus melibatkan budi
yang cemerlang dan hati nurani yang aktif sehingga pilihannya tepat. Ia memilih
figur yang berkepribadian mulia. Figur yang dipilih adalah yang benar-benar
berbudi cemerlang, berhati nurani, berkata benar dan jujur, serta bertindak
bijak dalam segala situasi. Figur yang dipilih semestinya figur yang berbadan
dan berjiwa. Sengaja saya menyebut badan dan jiwa untuk menghentak setiap
pemilih agar bisa kritis dalam menentukan pilihannya sehingga yang dipilih
adalah dia yang tidak hanya sibuk dengan hal-hal materi sampai lupa menyediakan
waktu bagi Tuhannya. Sejenak untuk direnungkan, figur mana yang semasa kampanye
dan juga debat itu sempat menyinggung tentang bagaimana upaya kerja sama dengan
institusi religius demi meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat NTT yang
menurut Departemen Agama dibilang sebagai propinsi agamais? Maaf tidak
bermaksud mencapuradukan agama dalam urusan pemerintah, namun kalau mau
berpikir lebih seimbang, warga masyarakat juga adalah warga gereja/umat Allah
sehingga pemeritah tetap punya tanggung jawab untuk hal ini. Bersamaan dengan hal ini, kemampuan para
figur saat berkampanye selama masa
kampanye dan kesanggupan mereka berdebat tertanggal 14 Maret 2013 di Aula El
Tari Kupang sebagaimana disiarkan langsung oleh TVRI Nasional bisa menjadi
referensi penilaian setiap pemilih hingga dapat memutuskan, figur mana yang
paling tepat untuk memimpin Flobamora lima tahun ke depan.
Nah, itu untuk para pemilih yang
siap merayakan pesta demokrasi. Bagaimana dengan mereka bersikap acuh tak acuh
atau atas kesadarannya mengambil sikap ekstrim, golput (golongan putih) alias
tidak ikut memilih? Adakah mereka adalah
warga negara yang baik? Hemat saya tidak! Sekalipun mereka mengatakan kami
tidak memilih karena diantara kelima calon tersebut, satu pun tidak pantas kami
pilih, saya tetap menegaskan bahwa mereka sedang mengangkangi eksistensi
sebagai seorang warga negara, bahkan sebagai seorang manusia. Meminjam
ungkapan, St. Thomas Aquinas, seorang teolog sekaligus filsuf politik abad
pertengahan, ‘manusia sesungguhnya adalah binatang sosial dan binatang politik’
(social and politic animal). Sebagai makhluk sosial, wajib hukumnya untuk
berdinamik sebagai makhluk sosial. Demikian pula sebagai makhluk politik, ia
terikat kewajiban mutlak untuk terlibat dalam dunia politik. Secara khusus
dalam kaitan dengan pemilihan kepala daerah ini, ia terikat kewajiban untuk
ikut bagian dalam pesta demokrasi ini. Ia harus datang mencoblos di TPS yang
ada, sekiranya ia sudah sah menurut Undang-Undang Pemilu untuk memilih, dan
bukannya mengambil sikap malas tahu atau golput.
Hanya dengan mengikuti pesta
demokrasi ini, ia mengafirmasi dirinya sebagai manusia politik yang utuh.
Sekiranya lima pasangan itu tiada satu pun yang diidealkan, yakinlah suara hati
sebagai subjek politik akan menolongmu untuk memilih salah satu dari kelima
calon tersebut sebagai figur yang bisa diandalkan untuk memilih NTT lima tahun
ke depan.
Dengan
nada evokatif bagi sesama saya yang sedang acuh tak acuh dan terutama yang
hendak golput agar segera berkesadaran sebagai makhluk politik, saya
mengucapkan selamat berpesta demokrasi bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara
Timur. Ini hari istimewah seluruh masyarakat NTT. Tidak ada pilihan lain untuk
menghindar dari pesta langka dan unik ini. Sekalipun pestanya tidak menyediakan
makanan dan minuman, pun musik yang gegap gempita, mari menggabungkan diri
dengan sesama yang lain di hari bersejarah ini. Kunjungi TPS terdekatmu dan
jatuhkan pilihan yang tepat. Itu pilihan singkat yang bernilai kehidupan untuk
lima tahun ke depan. Pastikan anda dan saya puas, gembira dan berbahagia, bebas
dan tanpa tekanan apa pun dalam menentukan pilihan sebagai seorang pemilih yang
bermartabat. Ini bukan pesta siapa-siapa. Ini pesta seluruh rakyat Nusa
Tenggara Timur. Tersenyum sedetik dalam mencontreng figur terbaikmu agar
nantinya engkau dan saya dihantar menuju pangkuan bumi Flobamora yang adil,
makmur dan sejahtera.