Rabu, 27 Februari 2013

Air di Mata Leluhur

Filosofi "Oeleu" Suku Nailake

Mungkin ini adalah salah satu filosofi dari sekian banyak filosofi seputar air dalam masyarakat nusantara. Pastinya penghargaan mereka terhadap air adalah salah satu dari sekian banyak penghargaan yang ada di republik ini. Saya berkesempatan menguraikan dan mengisahkannya lewat media ini terkait dengan Green Blogging Competition dalam rangka International Youth Green Summit (IYGS) 2013.

Mengawali uraian ini, saya deskripsikan sedikit tentang suku Nailake sebagai pemilik sekaligus penghayat filosofi "Oeleu". Nailake adalah salah satu suku/etnis Dawan yang berdiam di Supun-Manufui, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagaimana etnis dawan lainnya, etnis ini sangat kental dengan kebun dan ladang. Karenanya tak dapat diragukan lagi kalau mata pencahariannya adalah bertani. Memang hampir semua anggota suku ini adalah masyarakat petani. Konsekuensi lanjut dari kenyataan ini adalah hidup dalam kesederhanaan dan apa adanya. Maklum gaya bertaninya masih konvensional.
Walau demikian sederhananya, saya kagum dengan mereka. Terlepas dari keberadaan saya sebagai bagian dari suku ini, saya mau mengatakan bahwa suku ini memiliki mutiara tertentu yang sangat luhur dan mulia. Secara khusus yang hendak saya perkenalkan di sini adalah mutiara dalam rupa filosofi "Oeleu" yang sangat luhur. Tentunya filosofi ini terkait erat dengan air dan daya pengaruhnya dalam kehidupan manusia konkret.
Sebagai makhluk hidup yang bereksistensi dalam semesta ini, mereka  sebagai satu korps, persekutuan memiliki pengalaman nyata dengan air. Setidaknya, saat mereka minum air untuk memuaskan dahaga, menimba air dari kali atau sumur untuk memasak, mencuci, mandi, memberi minum ternak, menyiram tanaman dan seterusnya, mereka merasakan sekaligus mengafirmasi bahwa air begitu penting dalam kehidupannya sebagai manusia. Dalam khasanah kebudayaan, air yang disadari sangat penting ini menghantar mereka pada anamnesis akan pengalaman leluhurnya bersama dengan air di masa lalu. Dalam bahasa mereka, pengalaman mereka dengan air dalam kehidupan sehari-hari mengingatkan mereka akan ungkapan 'Oeleu' yang telah mereka wariskan dari leluhurnya.
Bagi mereka, kesadaran akan ungkapan tersebut berarti sedang menghadirkan diri dalam ruang lingkup keabadian air sebagai satu unsur terpenting dalam semesta atau menempatkan diri dalam lingkup keilahian air. Air dipandangnya sebagai sesuatu yang sakral karena dalam dirinya mengandung kehidupan. "Bagi suku kami, air adalah kehidupan. Tanpa air kita tidak bisa hidup. Karena air itu kehidupan, maka suku kami meyakini bahwa air itu suci karena kehidupan itu suci dan mulia. Dan kesadaran ini telah dibahasakan oleh leluhur kami semasanya dengan sebutan ''Oeleu". Menyadari air berarti menempatkan diri dalam wilayah suci yang adalah kehidupan itu sendiri", ungkap Yoseph Tnek Nailake, kepala suku Nailake beberapa waktu lalu.
Awalnya, saya tidak terlalu yakin kalau orang-orang sederhana seperti mereka bisa memiliki kesadaran sehebat ini. Namun anggapan saya ini gugur dengan sendirinya dan berubah menjadi satu keyakinan teguh, manakala saya menyaksikan perilaku mereka setiap hari. Kalau mau mengambil air, mereka menggunakan buyung dari tanah liat dan sepanjang perjalanan mereka berusaha agar air itu tidak tumpah. Kalau menggunakan air untuk mencuci, memasak, mandi dan sebagainya, mereka akan selalu berhati-hati agar air tidak terbuang begitu saja. Prinsipnya, air kalau digunakan harus memiliki efek kehidupan jadi tidak bisa sesuka hati menggunakan air. Dalam kondisi apa saja, air itu tetap mulia dan pantas dihargai.
Selain penghargaan yang tinggi tersebut, mereka juga sangat respek terhadap kelestarian daerah sumber air. Pohon-pohon yang ada di sepanjang sungai, apalagi yang ada di sekitar mata air dipelihara dan dijaga dengan sangat baik. Siapa yang memotongnya, pasti  diberi sanksi. Terlepas dari sanksi pemerintah desa, sebagai bagian dari Suku Nailake, mereka memiliki sanksi adat tersendiri yang mereka sebut denda adat. "Kalau salah satu anggota suku kami memotong atau merusakkan pohon-pohon di sekitar sumber air, termasuk sungai, kami langsung menjatuhkan sanksi adat berupa satu ekor babi yang nanti kami bunuh guna melakukan pemulihan atas tindakan yang telah mengganggu wilayah suci tersebut. Selain itu, kami mewajibkan yang bersangkutan untuk menanam dan memelihara tanaman di sekitar sumber air dimana ia telah melakukan kesalahan tadi sehingga daerah sumber air banyak pohon dan tetap hijau", kata bapak Yoseph di sela-sela wawancara saya dengan dirinya. Aturan dan sanksi adat ini benar-benar mereka patuhi dan hormati dengan sangat baik sehingga sumber airnya benar-benar lestari. Sungguh sekiranya seluruh masyarakat nusantara memiliki kesadaran seperti ini, pasti Indonesia tidak bakal kekurangan air dan wilayahnya pun tetap hijau.
Satu lagi hal yang menarik dan patut disimak dalam kaitan dengan filosofi 'Oeleu' ini adalah faktum adanya air pemali dari suku ini di kaki Gunung Sonmahole, salah satu gunung kecil non api di dekat tempatnya tinggal mereka. Air pemali atau air keramat itu tiada lain dan tiada bukan adalah salah satu sumber air yang menurut keyakinan mereka adalah sumber air yang telah menyelamatkan leluhurnya dari kekeringan. Konon, suatu waktu di wilayah itu, leluhur mereka, Nai Tnek dan penduduk lainnya mengalami kekeringan total. Di tengah pencarian akan sumber air dalam masa krisis itu, tibalah leluhur ini di bawah kaki gunung Sonmahole. Di situ, ia sudah benar-benar letih dan mau mati rasanya karena sudah tidak dapat menahan dahaganya. Ia pun terbaring lesuh di tempat itu dan pasrah total atas kematian yang sedang menghantuinya. Tiba-tiba, ia melihat hutan kecil di depannya. Jaraknya selemparan batu dari tempat ia berbaring. Tanpa berpikir panjang, ia pun merayap dalam keletihan itu secara perlahan hingga tiba di hutan kecil itu. Ternyata di hutan itu, ia mendapatkan sumber air yang jernih sekali. Ia pun melepaskan dahaganya. Ia minum sampai puas. Lalu ia tersadar, air menghidupkan dia. Air menyelamatkan nyawanya. Air itu kehidupan. Karennya, setelah puas minum, ia pun segera meletakan beberapa batu dan bersujud bakti sembari berdoa di tempat itu. Usai berdoa, ia mengatakan kepada dirinya dan juga tempat itu, bahwa sumber air itu adalah sumber air untuk sukunya, Nailake dan ia menyebutnya sebagai 'Oeleu' yang berarti air pemali sukunya. Karena di tempat itu terdapat 'oeleu' sukunya, dan juga karena ia telah bernazar di tempat itu maka ia memberi nama tempat itu 'Apna'. Kata ini secara harafiah artinya ramas darah dan mengandung pengertian perjanjian abadi antara dirinya dan Sang Pemberi sumber air itu: bahwa pada hari itu juga, air itu menjadi milik sukunya dan setiap tahun, ia bersama anggota sukunya akan selalu mempersembahkan sesajian di sana sebagai bentuk pembaharuan janji dengan membunuh seekor babi jantan berbulu merah. Sesudah berkata demikian, ia pun pulang dan memanggil beberapa laki-laki dari kampung Manufui untuk boleh datang mengambil air dengan beliung dari sumber itu agar masyarakatnya bisa dapat memuaskan dahaganya.
Demikian saat itu, masyarakat Suku Nailake memiliki 'Oeleu' - air pemali/air keramat yang dinamai, 'Oe Apna'. Sebagaimana saya saksikan, setiap tahun, setidaknya pada saat hendak makan jagung muda (sekitar akhir Januari atau awal Februari) kepala Suku bersama beberapa tua adat akan membawa jagung dan juga seekor babi untuk mempersembahkannya di air pemali tersebut. Tentunya bukan sebagai bentuk penyembahan berhala tetapi semata sebagai bentuk penghormatan mereka pada pemilik air kehidupan yang telah memungkinkan leluhur dan orang-orang semasa itu selamat dari petaka dahaga dan ancaman kekeringan yang berkepanjangan. Juga tindakan ini adalah pembaharuan janji sebagaimana saya maksudkan tadi.
Selain ritus di atas, di tempat itu pula terdapat pohon-pohon besar yang rimbun dan sangat hijau sepanjang tahun. Pohon-pohon itu tidak pernah dirusakkan atau pun dipotong. Sungguh tempat itu sangat hijau dan sejuk. Airnya pun melimpah. Kepala suku dan masyarakat suku Nailake sangat menjaga tempat itu. Itulah surga kecil milik orang Nailake. 'Oeleu Apna' keramat, suci dan mulia. Semua ini senantiasa abadi sebab air itu kehidupan.


Rabu, 20 Februari 2013

My Valentine


 Valentine dan Kasih Sejati


Seantero  jagat tahu, tanggal 14 Februari adalah Hari Kasih Sayang, Valentine Day. Begitu banyak orang melibatkan diri dalam perayaan Valentine Day. Beragam macam perayaannya. Sebut saja, memberikan sms dengan ucapan “Happy Valentine”, saling kirim kartu ucapan ‘Happy Valentine Day’, saling memberi bunga sebagai ungkapan kasih sayang, saling tukaran kado, kencan bersama sang kekasih dan sebagainya. Intinya pada hari ini, banyak cara yang dilakukan untuk mengungkapkan kasih sayang pada seseorang.
Karena tiada batasan mengenai ungkapan kasih sayang ini, maka tiap perayaan Valentine Day, pasangan muda (khususnya remaja) yang belum terlalu memahami makna kasih sayang sering memaknai Hari Kasih Sayang  ini dengan saling berpelukan mesra, berciuman romantis dengan sang pacar, berkencan dengan sang pacar sampai larut malam, berhubungan seks dengan sang kekasih di luar pernikahan suci. Dikiranya melakukan hal-hal yang berbau seksual pada hari ini adalah pemaknaan paling tepat dan pengabadian paling special atas Valentine Day.
                Sekiranya memang perayaan Valentine Day hanya seputar hal-hal seksual seperti itu, saya termasuk salah satu orang yang menolak perayaan Valentine Day. Bersama rekan-rekan lain yang anti Valentine Day, saya lantang mengatakan ‘no’ untuk merayakan Hari Kasih Sayang itu. Namun sekiranya perayaan Valentine Day sungguh didasarkan pada pemahaman mendalam seputar ‘kasih sayang’ yang menjadi landasan hidup seorang anak manusia, saya adalah orang pertama yang memproklamasikan perayan Hari Kasih Sayang tersebut.  Bahkan pada tempat pertama saya memposisikan Valentine Day sebagai salah satu perayaan istimewah dalam hidup saya, mengingat esensi Valentine Day adalah satu kekuatan maha dasyat yang mendasari kehidupan manusia termasuk saya, yakni kasih sayang sejati. Mungkinkah saya bisa ada di dunia ini kalau tiada pernah ada kasih sayang sejati yang bersemi antara Tuhan dan manusia, atau setidaknya antara dua manusia normal yang telah saling jatuh cinta dan dengan penuh kesadaran mengikutsertakan diri dalam karya penciptaan manusia oleh Allah melalui suatu hubungan intim yang mulia?
                Valentine Day yang beresensi demikian hanya dapat diterima sebagian orang yang benar-benar berakhlak mulia. Sebab historisitas Valentine Day menyimpan serangkaian mitos seputar dewa-dewi Yunani dan Romawi, dan legenda keberadaan Santo Valentinus dalam dunia Kristen. Berpijak pada Mitos Yunani yang mana dalam tarikh Athena kuno menetapkan pertengahan bulan Januari sampai pertengahan Februari sebagai bulan Gamelion, periode pernikahan Dewa Zeus dan Hera, Valentine Day berkaitan erat dengan perkawinan dewa-dewi. Sementara itu, bertitik tolak pada mitos Romawi, yang mana menetapkan periode 13-18 Feberuari sebagai perayaan Lupercalia, perayaan penyucian yang dihubungkan langsung dengan dewa kesuburan, Lupercus dan dewi cinta, Juno Februata, maka Valentine Day memusatkan perhatian pada dewa kesuburan dan dewi cinta. Seluruh rangkaian acara yang dilaksanakana para pemuda dan pemudi di sini adalah seputar kesuburan para gadis berkat restu Lupercus dan bagaimana para pemuda mengungkapkan cinta kepada gadis pujaannya dalam kekuatan Juno Februata. Akhirnya kalau didasarkan pada penetapan Kristiani semasa Paus Gelasius I, yang mana menetapkan tanggal 14 Februari sebagai hari peringatan Santo Valentinus (namun kemudian dihapus kembali secara resmi oleh bunda Gereja pada tahun 1969 dalam rangka menghapus santo-santa yang tidak jelas asal-usulnya), salah satu martir awal kekristenan yang diyakini pada masa itu sebagai pembela iman, dalam arti menyelamatkan para pemuda yang dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, dan menikahkan mereka dengan kekasihnya masing-masing sebagai wujudnyata panggilan manusia untuk Creatio Continua Allah melalui suami-istri yang sah, Perayaan Valentine berkaitan erat dengan pengorbanan luhur dalam kerangka Cinta Suci. 
Dari historisitas ini nampak bahwa manusia yang telah menetapkan perayaan tersebut, entah dengan latar belakang kepercayaan kuno maupun kepercayaan kristiani terbersit pencarian manusia akan cinta sejati. Dengan pemahaman demikian maka historisitas yang penuh dengan penyembahan berhala dan legenda itu memiliki nilai luhur yang mesti dihargai, yakni kasih sayang sejati. Bagi saya, kasih sayang sejati itu berhakekatkan kesuburan, kesempurnaan dalam cinta, penuh pengorbanan dan mengabdi kehidupan. Mungkinkan manusia mendambakan cinta sejati yang tak subur? Lantas kapankah kasih sayang sejati itu membuahkan kebahagiaan dalam arti yang sesungguhnya? Adakah manusia di dunia ini yang tidak merindukan kasih sayang sejati yang sempurna dalam mengungkapkan cinta dan mampu menunjukan satu pengorbanan luhur demi kehidupan abadi?
Atas dasar refleksi ini, saya boleh mengatakan Valentine Day yang berlatar belakang mitos dan legenda itu pantas dirayakan, asalkan yang merayakannya sungguh menyadari hakekat dari valentine Day itu. Bahwasannya kesadaran perlu dibangun agar jangan sampai dengan perayaan itu, justru terjadi penyembahan berhala atas dewa-dewi, nafsu, seks, dan pernak-pernik Valentine yang serba mahal. Seiring dengan kesadaran itu perlu ditetapkan model perayaan oleh mereka yang hendak merayakannya dengan pertimbanagn akal sehat dan hati nurani yang murni.
Dengan ini, maka sudah sepantasnya tidak terjadi pro dan kontra untuk merayakann Valentine day. Toh, bukan dewa Yunani dan Romawi yang disembah kala manusia zaman ini merayakan Valentine Day sehingga muncul kecurigaan bahwa setiap beriman yang merayakannya akan jadi kafir lagi. Yang dirayakan di sini dan diagungkan adalah cinta sejati yang sedang dikisahkan dan diabadikan dalam tindakan nyata yang mulia dan menghidupkan. Juga bukan satu bagian dari kristianisasi diri, ketika orang merayakan hari raya ini sebab tanggal 14 Februari yang dulu sempat dijadikan sebagai peringatan Santo Valentinus itu telah dihapus bunda Gereja pada tahun 1969, mengingat asal-usul santo itu hanya terbatas pada legenda. Ini berarti Hari Valentine itu bukan khas Kristen lagi sehingga ketakutan dan kecemasan bahwa seseorang akan menjadi kafir manakala merayakan hari kasih sayang ini adalah sesuatu yang tidak dapat dipertahankan dan lebih dari itu patut disayangkan. Lagian pula kasih sayang sejati yang menjadi esensi Valentine Day tidak hanya khas kristiani sebab semua manusia yang ada di dunia ini mengakui kasih sayang sejati sebagai basis hidupnya. Dalam hal ini mau dikatakan bahwa kasih sayang yang ada di balik Valentine Day itu merupakan salah satu nilai luhur kehidupan yang bersifat universal.
Akhirnya antara pro dan kontra, dunia (khususnya para kaula muda) tetap merayakan Hari Raya Kasih Sayang ini. Jutaan sms bernada kasih sayang mengundara dan menyapa inbox para pemegang hp zaman ini; ribuan eeping coklat, boneka valentine, serta bunga mawar dan aneka pernak-pernik valentine diburu kaula muda sejagat; para pengusaha kado valentine meraih keutungan besar sesaat. Adakah semuanya ini hanya sebuah sandiwara? Antara pro dan kontra seputar Valentine Day, terdapat kasih sayang sejati yang terus menggema dalam kesempurnaanya. Jangan coba-coba kerangkengkan kasih sayang itu hanya dengan perasaan sentimental belaka dan kecurigaan-kecurigaan konyol, pun jangan batasi kasih nan mulia itu hanya pada tataran hawa nafsu murahan/cinta eros, apalagi mengabadikannya dengan hubungan seksual yang liar. 
Mari berpikiran jernih, berkeputusan mulia dan bertindak agung! Setiap manusia dibentuk oleh, dalam, dengan dan demi kasih sayang sejati. Biarkan Valentine Day ada, agar manusia zaman ini yang makin egois dan makin menjalani hidup di bawah kendali hawa nafsu  dapat disadarkan bahwa dasar kehidupan manusia adalah kasih sejati yang berdimensi pembebasan vertical dan horizontal.  Pada tataran vertikal, manusia yang merasakan kasih sayang sejati pada Valentine Day itu terarahkan kepada Kasih Sejati yang melampaui batasan ruang dan waktu sehingga ia mampu keluar dari egoisme dan keaungkuhan yang makin menjadi-jadi. Sementara  itu pada tataran horizontal, manusia yang merasakan kasih sayang sejati pada valentine day disadarkan akan satu tindakan kasih yang nyata dapat membebaskan sesama dari aneka belenggu dan persoalan demi kesempurnaan beradanya sebagai manusia utuh dengan kasih sejati. (Teriring salam hangat di Hari Valentine ini bagi teman-teman STSM Santo Mikhael Penfui dan teman-teman ATK Lovers kuucapkan “Happy valentine” untukmu semua. Teguhkan hidup dengan kasih sayang sejati, bahagiakan sesama dengan satu tindakan kasih yang membebaskan). 

Jumat, 08 Februari 2013

Martabat Tubuh Manusia


 
Tubuh Sebatas Materi?



“Masalah buat loe? Ini kan tubuh gue! Mau dijajankan bagai jajanan di sekolah kek, mau di tato kek, mau kuberi tindik di puting susu, di bibir, di hidung, di pusar kek, itu terserah gue. Orang tua aja tidak punya hak atas tubuhku, apa lagi kamu. Cian de loe….???”
            Begitu kiranya status salah satu facebooker yang sempat saya baca kemarin sore. Sepintas lalu, saya yang sedang tergila-gila dengan kebebasan individu dan otonomi diri, mengamini ungkapan tersebut. Bahkan sekiranya kalau saya punya kesempatan menjumpai teman facebooker itu, akan saya katakan kepada dia agar segera membuat status itu dalam bentuk selebaran dan saya siap menyebarkannya kepada generasi muda masa kini. Biar teman-teman seusia tahu dan lebih pasti dalam mengeksploitasi tubuhnya sebab tiada yang lebih tinggi di zaman ini, selain mengagungkan kebebasan individu di satu sisi, dan menjadikannya sebagi titik pijak segala bentuk eksploitasi tubuh demi mencapai kenikmatan sepuas-puasnya di sisi lain. Kata Jeremy Bentham (filsuf Inggris), kehidupan manusia ditentukan oleh dua tetapan dasar: nikmat (pleisure) dan rasa sakit (pain). Semakin tinggi orang mencapai kenikmatan, semakin bahagialah dirinya dan semakin berarti hidupnya. Sebaliknya semakin menderita seseorang, semakin terasing dirinya dari kebahagiaan hidup ini. Atas dasar ini saya mau mengundang dan mengajak bahkan memerintahkan teman-teman, termasuk teman facebooker tersebut dan juga teman-teman fb lainnya yang biasa aktif sekali mengupload foto hasil editan dengan tujuan: diakui sebagai yang tercantik, terseksi, termontok, terimut, dan sejenisnya, agar segera memaksimalkan eksploitasi tubuh guna mencapai kenikmatan sebanyak-banyaknya.
Hidup sudah begitu singkat, mengapa harus disia-siakan dan dilewati hanya dengan rentetan penderitaan? Mari rame-rame manfaatkan tubuh untuk puaskan nafsu yang sedang menggelora dalam diri. Hai para pemuda tampan, tato seluruh tubuhmu dengan aneka tato, pasanglah pula tindik sebanyak-banyaknya di lidah, bibir, mata, hidung, telinga dan bahkan alat kelaminmu. Jangan sampai anda lewatkan suntikan narkoba dalam tubuh, biar kamu bisa ekstasi selalu. Tak boleh lupa berhubungan seks setiap hari dengan pacar, pelacur usia sekolah (PUS), juga pelacur-pelacur terorganisir di tempat-tempat penampungan resmi. Sedang kamu para pemudi cantik, perbesar payudaramu dengan suntikan silicon dan merahkan atau kuningkan rambutmu agar tampak lebih memikat. Jangan lupa gunakan tindik di lidahmu, hidungmu, payudaramu, juga pusar dan alat kelaminmu biar kamu bisa tampil lebih menggairakan laki-laki. Sebisa mungkin, gunakan saja narkoba agar bisa ekstasi dan berhubungan sekslah setiap jam agar kamu bisa menggapai kenikmatan. Satu lagi untukmu, para pemudi, gunakan media yang ada untuk pamerkan dirimu. Jangan sampai keindahan wajahmu dan kebesaran payudaramu, tak dilihat para pemuda hingga tidak sanggup menghipnotis hasrat kaum Adam dan terbilang sebagai rongsokan sampah. Akhirnya untukmu berdua, jangan pikir soal sakit-penyakit yang bakal menimpa dirimu sebagai konsekuesi dari pengobjekan dan pengeksploitasian tubuh secara besar-besaran. Toh, kalau penyakit yang menimpamu membawamu pada kematian, terimalah itu sebagai mahkota segala kenikmatanmu. Mari membangun keyakinan bersama Sang fenolog Jerman, Martin Heidegger, “sein sum tode” – ada menuju kematian. Tidak pernah ada manusia yang sejak kelahirannya tidak terarah kepada kematian.
Kalau kematian saja dilihat sebagai puncak kenikmatan, mengapa harus cemas dengan kehamilan sesudah berhubungan seks liar. Kan bisa aborsi. So, takut apa lagi? Jangan berpikir tentang stereotip negative yang diberikan masyarakat tentang dirimu. Bukannya sekarang zaman otonomi? Tingkatkan saja rasa cuek dengan titik tumpu kebebasan individu yang sedang diproklamasikan era modern dan kontemporer atau setidaknya yakinlah bahwa semua itu bagian dari privasimu yang tak boleh diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk Tuhan yang telah kita bunuh bersama Friedrich Nietshce. Jadi kalau orang bicara yang bukan-bukan atas dasar penilaian moralnya, anggap saja tidak ada soal. Bukannya, anjing menggonggong kafila berlari terus?
Begitu kiranya dukungan ilmiah saya untuk teman-teman yang lagi tergila-gila dengan tubuhnya. Namun sekiranya disadari betul, mestinya tiga perempat generasi muda zaman ini yang terlampau pragmatis dan telah terinfeksi virus materialisme, hedonisme dan konsumerisme berkat kekuatan globalisasi dan daya penopang teknologi informasi, yang selalu mereduksi kebermaknaan hidup hanya pada kenikmatan melalui eksploitasi tubuh, harus tahu diri bahwa hidup bukan hanya untuk mencari kenikmatan. Lebih jauh, mau ditegaskan bahwa tiada mungkin tubuh mereka mendatangkan kenikmatan kalau roh/jiwa dipisahkan dari tubuh. Bisakah mayat yang tidak beroh/berjiwa lagi dieksploitasi manusia bersangkutan untuk menggapai kenikmatan? Dengan ini sebenarnya mau dikatakan bahwa adalah jiwa yang menyatu dengan roh sehingga terbentuk manusia utuh. Karenanya, ketika hendak menggunakan tubuh, entah itu mata atau telinga, baiklah diingat bahwa jiwa pasti terlibat di dalam penggunaan itu.
Sambil menyadari keberadaan jiwa dan daya kekuatannya yang sangat membantu manusia dalam menggunakan tubuh, bersama fenomenolog, Maurice Merleau-Ponty, saya mau katakan bahwa dengan tubuh manusia bersentuhan dengan dunia. Bahkan sambil berusaha untuk tidak menjatuhkan diri dalam kelompok idealisme, juga realisme, saya katakan bahwa melalui tubuh manusia mengenal dunia dan membangun persepsi tentang dunia. Bisakah seseorang yang hanya memiliki pikiran dan tidak memiliki tubuh membangun satu konsep atas satu realitas, lalu kita yang lain mengenali pikirannya itu secara baik?
Sungguh benar pikiran Merleau Ponty, tubuh merupakan medium manusia untuk “mempunyai” dunia. Dengan tubuh, manusia mengenal dunia tempat ia hidup dan menatanya untuk kebahagiaan hidup yang sesungguhnya sepanjang ziarah menuju keabadian. Bahkan Martin Heidegger sendiri dalam konsep dasein- ada di sana (ungkapan khasnya untuk menyebut manusia) telah menegaskan tentang urgensi tubuh manusia. Hanya manusia bertubuh yang ber-dasein. 
Tubuh sekalipun dilihat sebagai materi, ia begitu penting dan lebih jauh dari itu ia hanya sekedar sebagai media pelampiasan hawa nafsu. Beato Yohanes Paulus II dalam ajarannya, “Theology of the Body” menegaskan: “Badan. Dan hanya badan yang sanggup membuat yang tidak kelihatan (yang rohani dan yang ilahi), menjadi kelihatan. Badan diciptakan untuk menghantarkan misteri kekal yang tersembunyi, Allah ke dalam realitas dunia yang kelihatan, dan karena itu menjadi tanda atasnya”. Menegaskan lagi kekuatan mulia dari tubuh ini, Sri Paus Benedictus XVI di hari ulang tahun ke-30 berdirinya Yayasan Yohanes Paulus II mengatakan, “Tubuh adalah tempat di mana Roh Kudus berdiam. Dalam terang ini kita memahami bahwa tubuh kita bukanlah berat material tanpa daya namun jika kita tahu bagaimana mendengarkan, tubuh kita berbicara tentang bahasa cinta sejati”.
Dengan penegasan ini, baiklah setiap manusia yang terbilang sebagai jiwa yang membadan dan badan yang menjiwa menyadari akan betapa mulianya tubuh. Setidaknya teman-teman seusia saya, generasi muda zaman ini, termasuk teman facebooker saya di atas tidak menggunakan tubuh semau gue, melainkan berusaha mengembangkan segala potensi yang ada dalam diri masing-masing semaksimal mungkin untuk menggapai kebahagiaan sejati dalam bingkai kemanusiaan sejati. Tubuh itu mulia dan agung, semulia dan seagung jiwa. Tubuh, bagaimana pun keadaannya, tidak bisa dijadikan barang jajanan, tidak bisa dipamerkan secara liar di segala tempat dengan berbagai cara, diperkosa dan dimanipulasi seturut perkembangan zaman; pun tidak bisa ditindik sesuka hati untuk bisa tampil gaul dan menggairahkan lawan jenis. Tubuh yang mulia itu tidak hanya sebatas media pelampiasan hawa nafsu dan sarana menggapai kenikmatan tertinggi. Peran dan urgensi tubuh lebih tinggi dari semuanya ini. Tubuh itu insani sekaligus Ilahi. Tubuh tidak hanya sebatas materi!