Filosofi "Oeleu" Suku Nailake
Mungkin ini adalah salah satu filosofi dari sekian banyak filosofi seputar air dalam masyarakat nusantara. Pastinya penghargaan mereka terhadap air adalah salah satu dari sekian banyak penghargaan yang ada di republik ini. Saya berkesempatan menguraikan dan mengisahkannya lewat media ini terkait dengan Green Blogging Competition dalam rangka International Youth Green Summit (IYGS) 2013.
Mengawali uraian ini, saya deskripsikan sedikit tentang suku Nailake sebagai pemilik sekaligus penghayat filosofi "Oeleu". Nailake adalah salah satu suku/etnis Dawan yang berdiam di Supun-Manufui, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagaimana etnis dawan lainnya, etnis ini sangat kental dengan kebun dan ladang. Karenanya tak dapat diragukan lagi kalau mata pencahariannya adalah bertani. Memang hampir semua anggota suku ini adalah masyarakat petani. Konsekuensi lanjut dari kenyataan ini adalah hidup dalam kesederhanaan dan apa adanya. Maklum gaya bertaninya masih konvensional.
Walau demikian sederhananya, saya kagum dengan mereka. Terlepas dari keberadaan saya sebagai bagian dari suku ini, saya mau mengatakan bahwa suku ini memiliki mutiara tertentu yang sangat luhur dan mulia. Secara khusus yang hendak saya perkenalkan di sini adalah mutiara dalam rupa filosofi "Oeleu" yang sangat luhur. Tentunya filosofi ini terkait erat dengan air dan daya pengaruhnya dalam kehidupan manusia konkret.
Sebagai makhluk hidup yang bereksistensi dalam semesta ini, mereka sebagai satu korps, persekutuan memiliki pengalaman nyata dengan air. Setidaknya, saat mereka minum air untuk memuaskan dahaga, menimba air dari kali atau sumur untuk memasak, mencuci, mandi, memberi minum ternak, menyiram tanaman dan seterusnya, mereka merasakan sekaligus mengafirmasi bahwa air begitu penting dalam kehidupannya sebagai manusia. Dalam khasanah kebudayaan, air yang disadari sangat penting ini menghantar mereka pada anamnesis akan pengalaman leluhurnya bersama dengan air di masa lalu. Dalam bahasa mereka, pengalaman mereka dengan air dalam kehidupan sehari-hari mengingatkan mereka akan ungkapan 'Oeleu' yang telah mereka wariskan dari leluhurnya.
Bagi mereka, kesadaran akan ungkapan tersebut berarti sedang menghadirkan diri dalam ruang lingkup keabadian air sebagai satu unsur terpenting dalam semesta atau menempatkan diri dalam lingkup keilahian air. Air dipandangnya sebagai sesuatu yang sakral karena dalam dirinya mengandung kehidupan. "Bagi suku kami, air adalah kehidupan. Tanpa air kita tidak bisa hidup. Karena air itu kehidupan, maka suku kami meyakini bahwa air itu suci karena kehidupan itu suci dan mulia. Dan kesadaran ini telah dibahasakan oleh leluhur kami semasanya dengan sebutan ''Oeleu". Menyadari air berarti menempatkan diri dalam wilayah suci yang adalah kehidupan itu sendiri", ungkap Yoseph Tnek Nailake, kepala suku Nailake beberapa waktu lalu.
Awalnya, saya tidak terlalu yakin kalau orang-orang sederhana seperti mereka bisa memiliki kesadaran sehebat ini. Namun anggapan saya ini gugur dengan sendirinya dan berubah menjadi satu keyakinan teguh, manakala saya menyaksikan perilaku mereka setiap hari. Kalau mau mengambil air, mereka menggunakan buyung dari tanah liat dan sepanjang perjalanan mereka berusaha agar air itu tidak tumpah. Kalau menggunakan air untuk mencuci, memasak, mandi dan sebagainya, mereka akan selalu berhati-hati agar air tidak terbuang begitu saja. Prinsipnya, air kalau digunakan harus memiliki efek kehidupan jadi tidak bisa sesuka hati menggunakan air. Dalam kondisi apa saja, air itu tetap mulia dan pantas dihargai.
Selain penghargaan yang tinggi tersebut, mereka juga sangat respek terhadap kelestarian daerah sumber air. Pohon-pohon yang ada di sepanjang sungai, apalagi yang ada di sekitar mata air dipelihara dan dijaga dengan sangat baik. Siapa yang memotongnya, pasti diberi sanksi. Terlepas dari sanksi pemerintah desa, sebagai bagian dari Suku Nailake, mereka memiliki sanksi adat tersendiri yang mereka sebut denda adat. "Kalau salah satu anggota suku kami memotong atau merusakkan pohon-pohon di sekitar sumber air, termasuk sungai, kami langsung menjatuhkan sanksi adat berupa satu ekor babi yang nanti kami bunuh guna melakukan pemulihan atas tindakan yang telah mengganggu wilayah suci tersebut. Selain itu, kami mewajibkan yang bersangkutan untuk menanam dan memelihara tanaman di sekitar sumber air dimana ia telah melakukan kesalahan tadi sehingga daerah sumber air banyak pohon dan tetap hijau", kata bapak Yoseph di sela-sela wawancara saya dengan dirinya. Aturan dan sanksi adat ini benar-benar mereka patuhi dan hormati dengan sangat baik sehingga sumber airnya benar-benar lestari. Sungguh sekiranya seluruh masyarakat nusantara memiliki kesadaran seperti ini, pasti Indonesia tidak bakal kekurangan air dan wilayahnya pun tetap hijau.
Satu lagi hal yang menarik dan patut disimak dalam kaitan dengan filosofi 'Oeleu' ini adalah faktum adanya air pemali dari suku ini di kaki Gunung Sonmahole, salah satu gunung kecil non api di dekat tempatnya tinggal mereka. Air pemali atau air keramat itu tiada lain dan tiada bukan adalah salah satu sumber air yang menurut keyakinan mereka adalah sumber air yang telah menyelamatkan leluhurnya dari kekeringan. Konon, suatu waktu di wilayah itu, leluhur mereka, Nai Tnek dan penduduk lainnya mengalami kekeringan total. Di tengah pencarian akan sumber air dalam masa krisis itu, tibalah leluhur ini di bawah kaki gunung Sonmahole. Di situ, ia sudah benar-benar letih dan mau mati rasanya karena sudah tidak dapat menahan dahaganya. Ia pun terbaring lesuh di tempat itu dan pasrah total atas kematian yang sedang menghantuinya. Tiba-tiba, ia melihat hutan kecil di depannya. Jaraknya selemparan batu dari tempat ia berbaring. Tanpa berpikir panjang, ia pun merayap dalam keletihan itu secara perlahan hingga tiba di hutan kecil itu. Ternyata di hutan itu, ia mendapatkan sumber air yang jernih sekali. Ia pun melepaskan dahaganya. Ia minum sampai puas. Lalu ia tersadar, air menghidupkan dia. Air menyelamatkan nyawanya. Air itu kehidupan. Karennya, setelah puas minum, ia pun segera meletakan beberapa batu dan bersujud bakti sembari berdoa di tempat itu. Usai berdoa, ia mengatakan kepada dirinya dan juga tempat itu, bahwa sumber air itu adalah sumber air untuk sukunya, Nailake dan ia menyebutnya sebagai 'Oeleu' yang berarti air pemali sukunya. Karena di tempat itu terdapat 'oeleu' sukunya, dan juga karena ia telah bernazar di tempat itu maka ia memberi nama tempat itu 'Apna'. Kata ini secara harafiah artinya ramas darah dan mengandung pengertian perjanjian abadi antara dirinya dan Sang Pemberi sumber air itu: bahwa pada hari itu juga, air itu menjadi milik sukunya dan setiap tahun, ia bersama anggota sukunya akan selalu mempersembahkan sesajian di sana sebagai bentuk pembaharuan janji dengan membunuh seekor babi jantan berbulu merah. Sesudah berkata demikian, ia pun pulang dan memanggil beberapa laki-laki dari kampung Manufui untuk boleh datang mengambil air dengan beliung dari sumber itu agar masyarakatnya bisa dapat memuaskan dahaganya.
Demikian saat itu, masyarakat Suku Nailake memiliki 'Oeleu' - air pemali/air keramat yang dinamai, 'Oe Apna'. Sebagaimana saya saksikan, setiap tahun, setidaknya pada saat hendak makan jagung muda (sekitar akhir Januari atau awal Februari) kepala Suku bersama beberapa tua adat akan membawa jagung dan juga seekor babi untuk mempersembahkannya di air pemali tersebut. Tentunya bukan sebagai bentuk penyembahan berhala tetapi semata sebagai bentuk penghormatan mereka pada pemilik air kehidupan yang telah memungkinkan leluhur dan orang-orang semasa itu selamat dari petaka dahaga dan ancaman kekeringan yang berkepanjangan. Juga tindakan ini adalah pembaharuan janji sebagaimana saya maksudkan tadi.
Selain ritus di atas, di tempat itu pula terdapat pohon-pohon besar yang rimbun dan sangat hijau sepanjang tahun. Pohon-pohon itu tidak pernah dirusakkan atau pun dipotong. Sungguh tempat itu sangat hijau dan sejuk. Airnya pun melimpah. Kepala suku dan masyarakat suku Nailake sangat menjaga tempat itu. Itulah surga kecil milik orang Nailake. 'Oeleu Apna' keramat, suci dan mulia. Semua ini senantiasa abadi sebab air itu kehidupan.
Mengawali uraian ini, saya deskripsikan sedikit tentang suku Nailake sebagai pemilik sekaligus penghayat filosofi "Oeleu". Nailake adalah salah satu suku/etnis Dawan yang berdiam di Supun-Manufui, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagaimana etnis dawan lainnya, etnis ini sangat kental dengan kebun dan ladang. Karenanya tak dapat diragukan lagi kalau mata pencahariannya adalah bertani. Memang hampir semua anggota suku ini adalah masyarakat petani. Konsekuensi lanjut dari kenyataan ini adalah hidup dalam kesederhanaan dan apa adanya. Maklum gaya bertaninya masih konvensional.
Walau demikian sederhananya, saya kagum dengan mereka. Terlepas dari keberadaan saya sebagai bagian dari suku ini, saya mau mengatakan bahwa suku ini memiliki mutiara tertentu yang sangat luhur dan mulia. Secara khusus yang hendak saya perkenalkan di sini adalah mutiara dalam rupa filosofi "Oeleu" yang sangat luhur. Tentunya filosofi ini terkait erat dengan air dan daya pengaruhnya dalam kehidupan manusia konkret.
Sebagai makhluk hidup yang bereksistensi dalam semesta ini, mereka sebagai satu korps, persekutuan memiliki pengalaman nyata dengan air. Setidaknya, saat mereka minum air untuk memuaskan dahaga, menimba air dari kali atau sumur untuk memasak, mencuci, mandi, memberi minum ternak, menyiram tanaman dan seterusnya, mereka merasakan sekaligus mengafirmasi bahwa air begitu penting dalam kehidupannya sebagai manusia. Dalam khasanah kebudayaan, air yang disadari sangat penting ini menghantar mereka pada anamnesis akan pengalaman leluhurnya bersama dengan air di masa lalu. Dalam bahasa mereka, pengalaman mereka dengan air dalam kehidupan sehari-hari mengingatkan mereka akan ungkapan 'Oeleu' yang telah mereka wariskan dari leluhurnya.
Bagi mereka, kesadaran akan ungkapan tersebut berarti sedang menghadirkan diri dalam ruang lingkup keabadian air sebagai satu unsur terpenting dalam semesta atau menempatkan diri dalam lingkup keilahian air. Air dipandangnya sebagai sesuatu yang sakral karena dalam dirinya mengandung kehidupan. "Bagi suku kami, air adalah kehidupan. Tanpa air kita tidak bisa hidup. Karena air itu kehidupan, maka suku kami meyakini bahwa air itu suci karena kehidupan itu suci dan mulia. Dan kesadaran ini telah dibahasakan oleh leluhur kami semasanya dengan sebutan ''Oeleu". Menyadari air berarti menempatkan diri dalam wilayah suci yang adalah kehidupan itu sendiri", ungkap Yoseph Tnek Nailake, kepala suku Nailake beberapa waktu lalu.
Awalnya, saya tidak terlalu yakin kalau orang-orang sederhana seperti mereka bisa memiliki kesadaran sehebat ini. Namun anggapan saya ini gugur dengan sendirinya dan berubah menjadi satu keyakinan teguh, manakala saya menyaksikan perilaku mereka setiap hari. Kalau mau mengambil air, mereka menggunakan buyung dari tanah liat dan sepanjang perjalanan mereka berusaha agar air itu tidak tumpah. Kalau menggunakan air untuk mencuci, memasak, mandi dan sebagainya, mereka akan selalu berhati-hati agar air tidak terbuang begitu saja. Prinsipnya, air kalau digunakan harus memiliki efek kehidupan jadi tidak bisa sesuka hati menggunakan air. Dalam kondisi apa saja, air itu tetap mulia dan pantas dihargai.
Selain penghargaan yang tinggi tersebut, mereka juga sangat respek terhadap kelestarian daerah sumber air. Pohon-pohon yang ada di sepanjang sungai, apalagi yang ada di sekitar mata air dipelihara dan dijaga dengan sangat baik. Siapa yang memotongnya, pasti diberi sanksi. Terlepas dari sanksi pemerintah desa, sebagai bagian dari Suku Nailake, mereka memiliki sanksi adat tersendiri yang mereka sebut denda adat. "Kalau salah satu anggota suku kami memotong atau merusakkan pohon-pohon di sekitar sumber air, termasuk sungai, kami langsung menjatuhkan sanksi adat berupa satu ekor babi yang nanti kami bunuh guna melakukan pemulihan atas tindakan yang telah mengganggu wilayah suci tersebut. Selain itu, kami mewajibkan yang bersangkutan untuk menanam dan memelihara tanaman di sekitar sumber air dimana ia telah melakukan kesalahan tadi sehingga daerah sumber air banyak pohon dan tetap hijau", kata bapak Yoseph di sela-sela wawancara saya dengan dirinya. Aturan dan sanksi adat ini benar-benar mereka patuhi dan hormati dengan sangat baik sehingga sumber airnya benar-benar lestari. Sungguh sekiranya seluruh masyarakat nusantara memiliki kesadaran seperti ini, pasti Indonesia tidak bakal kekurangan air dan wilayahnya pun tetap hijau.
Satu lagi hal yang menarik dan patut disimak dalam kaitan dengan filosofi 'Oeleu' ini adalah faktum adanya air pemali dari suku ini di kaki Gunung Sonmahole, salah satu gunung kecil non api di dekat tempatnya tinggal mereka. Air pemali atau air keramat itu tiada lain dan tiada bukan adalah salah satu sumber air yang menurut keyakinan mereka adalah sumber air yang telah menyelamatkan leluhurnya dari kekeringan. Konon, suatu waktu di wilayah itu, leluhur mereka, Nai Tnek dan penduduk lainnya mengalami kekeringan total. Di tengah pencarian akan sumber air dalam masa krisis itu, tibalah leluhur ini di bawah kaki gunung Sonmahole. Di situ, ia sudah benar-benar letih dan mau mati rasanya karena sudah tidak dapat menahan dahaganya. Ia pun terbaring lesuh di tempat itu dan pasrah total atas kematian yang sedang menghantuinya. Tiba-tiba, ia melihat hutan kecil di depannya. Jaraknya selemparan batu dari tempat ia berbaring. Tanpa berpikir panjang, ia pun merayap dalam keletihan itu secara perlahan hingga tiba di hutan kecil itu. Ternyata di hutan itu, ia mendapatkan sumber air yang jernih sekali. Ia pun melepaskan dahaganya. Ia minum sampai puas. Lalu ia tersadar, air menghidupkan dia. Air menyelamatkan nyawanya. Air itu kehidupan. Karennya, setelah puas minum, ia pun segera meletakan beberapa batu dan bersujud bakti sembari berdoa di tempat itu. Usai berdoa, ia mengatakan kepada dirinya dan juga tempat itu, bahwa sumber air itu adalah sumber air untuk sukunya, Nailake dan ia menyebutnya sebagai 'Oeleu' yang berarti air pemali sukunya. Karena di tempat itu terdapat 'oeleu' sukunya, dan juga karena ia telah bernazar di tempat itu maka ia memberi nama tempat itu 'Apna'. Kata ini secara harafiah artinya ramas darah dan mengandung pengertian perjanjian abadi antara dirinya dan Sang Pemberi sumber air itu: bahwa pada hari itu juga, air itu menjadi milik sukunya dan setiap tahun, ia bersama anggota sukunya akan selalu mempersembahkan sesajian di sana sebagai bentuk pembaharuan janji dengan membunuh seekor babi jantan berbulu merah. Sesudah berkata demikian, ia pun pulang dan memanggil beberapa laki-laki dari kampung Manufui untuk boleh datang mengambil air dengan beliung dari sumber itu agar masyarakatnya bisa dapat memuaskan dahaganya.
Demikian saat itu, masyarakat Suku Nailake memiliki 'Oeleu' - air pemali/air keramat yang dinamai, 'Oe Apna'. Sebagaimana saya saksikan, setiap tahun, setidaknya pada saat hendak makan jagung muda (sekitar akhir Januari atau awal Februari) kepala Suku bersama beberapa tua adat akan membawa jagung dan juga seekor babi untuk mempersembahkannya di air pemali tersebut. Tentunya bukan sebagai bentuk penyembahan berhala tetapi semata sebagai bentuk penghormatan mereka pada pemilik air kehidupan yang telah memungkinkan leluhur dan orang-orang semasa itu selamat dari petaka dahaga dan ancaman kekeringan yang berkepanjangan. Juga tindakan ini adalah pembaharuan janji sebagaimana saya maksudkan tadi.
Selain ritus di atas, di tempat itu pula terdapat pohon-pohon besar yang rimbun dan sangat hijau sepanjang tahun. Pohon-pohon itu tidak pernah dirusakkan atau pun dipotong. Sungguh tempat itu sangat hijau dan sejuk. Airnya pun melimpah. Kepala suku dan masyarakat suku Nailake sangat menjaga tempat itu. Itulah surga kecil milik orang Nailake. 'Oeleu Apna' keramat, suci dan mulia. Semua ini senantiasa abadi sebab air itu kehidupan.



