Sesat itu Berbahaya!
Inspirasi:
Mrk.9:42-48
Pencinta kolom religius Timor Express yang berbahagia. Kaum
beriman Katolik sedang berada di masa suci, puasa agung selama 40 hari. Di masa
ini mereka diminta bunda Gereja untuk melakukan puasa dan pantang, doa, derma
dan amal sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi dirinya dengan Tuhan dan
sesama. Dengan kata lain, masa empat puluh hari ini merupakan masa penataan
diri dalam kekuatan roh Allah demi keutuhan hidup sebagai citra Allah di
hadapan Tuhan dan sesama. Dalam sasaran jangka pendek, sesama kita kaum beriman
kristiani memaknai masa 40 hari ini sebagai masa persiapan menyongsong masa
paskah. Selama persiapan ini, mereka terlibat dalam berbagai kegiatan rohani
dan juga kegiatan sosial lainnya sebagai bagian dari upaya silih dosa agar bisa
suci lahir dan batin untuk merayakan paskah Tuhannya. Dengan demikian,
hari-hari ini menjadi saat yang tepat bagi mereka untuk berbenah diri. Dalam
konteks ini saya memilih teks Injil Markus 9:42-48 sebagai dasar permenungan
hari ini.
Selain itu, saya juga memilih teks ini, mengingat hari ini
adalah H-1 untuk pesta demokrasi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Besok, Senin,
18 Maret 2013, seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur akan mengikuti acara
pemilihan gubernur dan wakil gubernur NTT. Terkait dengan perhelatan politik
ini, sering marak di kalangan kita, aksi serangan fajar dengan berbagai macam
bentuknya demi memenangkan cagub-cawagub tertentu. Dalam konteks ini, saya
berbagi renungan dengan teks Markus tersebut.
Pencinta kolom religius Timor Express, teks Markus 9:42-48 berbicara
tentang penyesatan. Hal pertama yang disoroti dalam teks tersebut adalah
tentang para penyesat kaum beriman. “Barang siapa menyesatkan salah satu dari
anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan
diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke laut” (Mrk.9:42). Ada penyesat, ada
yang disesatkan. Yang menjadi penyesat adalah mereka yang bertolak belakang
dengan Yesus (yang selalu berusaha untuk membunuh Yesus), mereka yang selalu
berusaha untuk menghalangi-halangi para beriman dalam pertumbuhan, perkembangan
dan perwujudan imannya. Juga yang terkategori penyesat adalah para penguasa
yang dengan wewenangnya terus membelokan arah iman umat Allah demi pencapaian kepentingan
dirinya, kelompoknya, partainya dan berbagai kepentingan sesaat lainnya yang
tidak berdimensi Ilahi. Terhadap mereka ini, Yesus mengatakan, ‘adalah lebih
baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada leherna lalu dibuang ke laut’.
Ini artinya konsekuensi dari tindakan menyesatkan itu sangat berbahaya untuk si
penyesat. Bayangkan kalau pada leher si penyesat itu diikatkan batu kilangan
(batu besar yang biasanya dipakai untuk menggiling gandum. Karena begitu besar,
maka batu itu biasa digerakan oleh seekor keledai) yang sudah sangat berat lalu
kemudian dibuang lagi ke laut. Bukannya ia akan segera tenggelam dan mati
konyol dalam laut? Jelas di sini, para penyesat kaum beriman itu tidak bermasa
depan. Siapa kiranya mau tampil sebagai penyesat di zaman ini? Silahkan hadapi
akhir hidupmu.
Demikian para penyesat dan imbalan dari tindakan konyolnya
itu. Lalu bagaimana dengan kelompok yang disesatkan itu? Sudah pasti mereka
tidak lagi hidup dalam keutuhan berada sebagai pengikut Kristus. Mereka jadi
pengikut orang lain; bisa juga menjadi hamba uang, budak hawa nafsu, gila
kuasa, dan pada tingkat yang paling ekstrim, mereka akan meninggalkan imannya
dan hidup sebagai kaum ateis. Ungkapan ini secara tidak langsung mengidetfikasi
identitas kelomok yang disesatkan itu. Mereka itu adalah pengikut Kristus.
Dalam teks Injil Yesus menyebut mereka sebagai ‘anak-anak yang kecil yang
percaya’. Yang dimaksudkan di sini tentunya adalah orang-orang kecil dan
sederhana, yang dalam kekecilannya itu mengenal dan mengimani Yesus sebagai
penyelamatnya. Nah, karena mereka adalah kaum jelata yang juga dalam arti
tertentu kurang berpendidikan, maka banyak kali mudah mereka mudah disesatkan
oleh para penyesat yang biasanya lebih terdidik dari mereka. Terkadang mereka
sedikit tahu bahwa apa yang sedang dilakukan para pemimpin itu tidak benar dan
sangat bertentangan dengan kebenaran, kebaikan, keadilan, kedamaian dan
terutama imannya, tapi apa daya, mereka tak kuasa menghadapi para pembesarnya
itu. Kalau mereka berani bicara, toh suara mereka tak didengar. Sebab para
petingginya bergaya kavila, ‘anjing menggonggong, kavila berlari terus’. Kalau
suara mereka sempat dengar, tanggapan para penyesat itu justru makin beringas
dan liar. Gayanya, bagai api disulut bensin: makin besar nyalanya sesudah
mendengar jeritan kaum kecil dan papa itu sehingga kaum kecil yang begitu
banyak, habis terbakar dalam tempo seketika. Syukurlah, Yesus, Sang Penyelamatnya
sudah berbicara atas nama mereka, mengungkapkan bagaimana para penyesat itu
mengalami perlakuan sadis kalau memang mereka terus hidup sebagai penyesat.
Setelah uraian tentang para penyesat dan nasibnya, ayat-ayat
selanjutnya (ayat 43-48), berbicara secara khusus tentang kesesatan kaum
beriman dalam dirinya sendiri. Bahwasanya, tangan, kaki dan mata yang
senantiasa digunakan dalam dinamika hidup setiap orang dapat membawa kesesatan.
Terhadap tiga organ yang menyebabkan kesesatan ini, perintah Yesus sangat jelas
dan boleh dibilang sangat keras. ‘Kalau tangan menyesatkan, penggallah; kalau
kaki menyesatkan, penggallah; dan kalau mata menyesatkan, cungkillah’. Lalu sambung
Yesus, ‘sebab adalah lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan
kudung, timpang dan bermata satu, dari pada dengan tangan utuh, dua kaki yang utuh,
dan bermata dua engkau dicampakan ke dalam neraka yang penuh dengan ulat-ulat
bangkai dan api yang tidak terpadamkan’ (lih.Mrk.9:43-48).
Memang tiga organ itu yang disebut Yesus, namun sesungguhnya
bukan hanya tiga organ itu yang menyebabkan seorang beriman tersesat. Mungkinkah
tangan bisa menyesatkan tanpa keterlibatan organ tubuh lain? Bisakah mata
menyesatkan, pun kaki menyesatkan tanpa kesatuan dengan organ lainnya? Seluruh
diri, termasuk akal budi dan kehendak bebas sudha pasti terlibat dalam kesesatan
itu sehingga dapat dimengerti bahwa dengan menyebut tiga organ itu, sebenarnya
Yesus mau menekannya tentang manusia sebagai subjek penyebab kesesatan dirinya.
Bukannya ketika tangan, kaki dan mata menghantar seseorang pada kesesatan,
orang tersebut sedang aktif bertindak? Karenannya, konsekuensi dari kesesatan
itu pula tidak harus dimengerti secara harafiah. Ungkapan tangan dipenggal,
kaki dipenggal, dan mata dicungkil itu sebenarnya menegaskan tentang berakhirnya
seorang anak manusia kalau ia telah menyesatkan dirinya sendiri. Dengan kata
lain Yesus mau mengatakan bahwa kemuridan Yesus melibatkan seluruh diri
manusia. Tidak hanya hati atau akal budi saja yang menjadi representasi
keberadaan seorang murid, melainkan seluruh diri, termasuk organ tubuh menjadi
bagian utuh dan total dari kemuridan Yesus. Menjadi murid Yesus berarti total
dan utuh untuk Yesus dalam seluruh ziarah hidup di dunia ini. Sekiranya hanya
sebagian saja yang terberi untuk Yesus, sedang yang lain masih ‘digadai’ untuk hawa nafsu, setan dan kekuatan duniawi
lainnya yang tak bermasa depan, itu artinya belum total dan utuh seperti Yesus,
sang Guru yang teleah terlebih dahulu menunjukkan satu keutuhan berada bagi
segenap umat beriman. Sebagai konsekuensinya, yang tidak utuh tak bermasa
depan, hilang dari kehidupan.
Dengan ini jelas bahwa, baik penyesat maupun yang tersesat
itu tak bermasa depan. Sesat itu berbahaya. Karenanya para penyesat harus
bertobat dan kembali hidup sebagai pengarah, penuntun, pembimbing kepada
kehidupan. Tidak hanya sampai di situ, mereka harus sungguh menjadi teladan,
tokoh panutan bagi kaum beriman kristiani agar dalam kekecilan dan
kesederhanaanya, para beriman sanggup menjumpai Yesus dan menyatu dengan-Nya
hingga keabadian. Sementara itu, untuk kaum beriman sejati: teguh dalam iman
dan kokoh dalam pengharapan sehingga tidak terjerat perangkap para penyesat.
Sekiranya sedang berada di jalur sesat, segera berbalik haluan dan kembali ke
pangkuan kasih Ilahi dengan tekad yang kokoh: seluruh diri hanya untuk Tuhan.
Ini masa tobat, masa kembali pulang dengan seluruh diri untuk Tuhan kita
sehingga nantinya kita layak merayakan paskah Tuhan.
Sembari mengucapkan selamat meniti perjalanan pulang demi
terbebaskan dari ancaman penyesatan yang segera menimpa para penyesat dan kaum
sesat, mari berjaga diri agar di saat terakhir menyongsong pesta demokrasi,
tiada pun seorang pengikut Kristus yang disesatkan oleh materi dan kuasa,
janji-janji muluk dan berbagai tawaran kenikmatan. Lebih lagi, seorang pengikut
Kristus, jangan sampai menjadi penyesat bagi orang lain demi mendapatkan
sejumlah uang, jabatan dan jaminan tertentu. Rayakanlah pesta demokrasi dalam
kemerdekaan sejati sebagai anak-anak Allah. Bersatu dengan Yesus dan
jatuhkanlah pilihan yang tepat demi memaknai keutuhan berada sebagai pengikut
Kristus. Sssst….sesat itu berbahaya. Total dan utuh hanya untuk Tuhan itu
kehidupan kekal.
*Sehari
menyongsong pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur NTT