Sabtu, 20 April 2013

Jejak-Jejak Cinta

Jejak-Jejak Cinta



Hadir tanpa kata
Ada tanpa suara
Itu misteri hari kemarin
Cinta nama misteri itu

Hadir dalam rupa
Ada dalam sesosok pribadi
Itu rahasia hari kemarin
Cinta nama rahasia itu

Hadir di hari kemarin
Ada hingga saat ini
Itu faktum kehidupan 
Cinta nama faktum itu

Hadir dalam pribadi
Ada dalam diri
Itu bukti cinta
Tony Kapitan-lah bukti cinta itu

Jejak-Jejak cinta terangkai kini
Dalam rentetan kehadiran Tony terlukis jejak cinta
Dalam setiap adanya Tony tertinggal jejak cinta
Abadinya jejak-jejak cinta ini

Mama dan bapa, segalanya bagiku..... Mat berbahagia bersamaku




00:00, 21 April 2013
Dalam kesendirian di usia baru 
berkat kehadiran Enjy


 


April Dalam Keabadian


 Sajak Cinta Di Atas Badai

Never Ending Love For You

“Hentikan pembicaraan itu! Negeri ini bukan negeri koruptif!”
“Bukan negeri koruptif? Lalu mau dibilang negeri apa? Negeri bebas korupsi? Hei, anak muda, asal kamu tahu, negeri kita ini telah dikenal dunia sebagai salah satu negeri yang memiliki indeks tinggi dalam hal korupsi. Banyak artikel berbasis data akurat dalam media massa yang menegaskan bahwa negeri ini adalah negeri koruptif”. 
“Aku tahu itu pak. Aku tahu bahwa korupsi sedang beranak pinak di negeri ini. Tapi sebagai generasi muda pewaris masa depan bangsa, aku mau bilang negeri ini bukan negeri koruptif”
“Apa maksudmu, hai anak muda?”
“Tiada maksud lain, selain seruan lantang di tengah amukan badai korupsi. ”Negeriku bukanlah negeri koruptif. Tiada pernah ia tertakdir sebagai ibu yang jahat bagi anak-anaknya. Sedari awal keberadaannya, ia telah menyiapkan susu dan madu berlimpah bagi anak cucunya. Ia ibu terbaik bagi setiap buah hatinya, termasuk aku dan engkau. Mengapa engkau meremehkannya? Mengapa engkau mengatai-ngatai dia seperti itu? Mari berkata sopan tentangnya. Mari berlaku adil untuknya. Ia bukan negeri koruptif…!!!”
“Terima kasih untuk sajak indahmu. Aku bahagia mendengarnya, tapi sayang, syair-syair itu tak lebih dari pelipur lara anak-anak negeri. Negeri yang sudah setua ini dalam hal keburukan, tiadalah mungkin disebut sebagai yang baik. Lebih dari itu kamu mesti tahu, negeri kita sudah di ambang kehancuran”.
   “Jangankan di ambang kehancuran pak. Di atas puing-puing reruntuhannya sekalipun, aku tetap mendeklamasikan sajakku untuknya sebagai yang terbaik”.
Mendengar aku menyambung demikian, Pak Andre, dosen sosiologi itu makin berang. Ia melepaskan kaca mata gula lempengnya dan mendekat ke arahku. Semua teman pada posisi takut. Maklum, dosen yang sudah sedikit pikun ini cepat sekali naik pitam. 
“Dasar anak muda! Hentikan idealisme itu detik ini juga. Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk berutopia seperti itu. Lebih baik, kamu ikut kata-kata bapak daripada bapak mengusirmu keluar dari ruang kuliah”.
“Bapak dosen yang aku kagumi. Berulang kali bapak memotivasiku untuk kreatif, kreatif dan kreatif menyikapi realitas sosial yang ada sambil terus mengembangkan daya kritis demi menjadi generasi muda yang unggul. Dan apa yang aku lakukan ini adalah menuruti kata-kata bapak”.
Ia terdiam lalu kembali mengenakan kaca matanya.
“Aku sadar. Badai korupsi sedang mengamuk. Bisa jadi negeri kita hampir runtuh seperti kata-kata bapak karena amukan badai itu. Tapi komitmentku sudah utuh. Di atas badai besar ini, aku menuliskan sajak cinta untuk negeriku”.
“Jadi anda sedang menunjukan optimismemu akan masa depan cerah negeri ini?”
Kata-kata lunak sang dosen kilerku itu membuat aku makin PD alias percaya diri.
“Yah..untuk rasa optimis ini aku persembahkan sajakku. Untuk wujudkan harapan teguhku, jiwa dan raga nan rapuh ini ku pertaruhkan. Mati demi mulianya ibu pertiwi sama dengan hidup selamanya. Dan satu lagi. Negeri ini , negeri bebas korupsi. Sebab negeri ini tak pernah berkorupsi. Yang melakukan korupsi adalah anak-anak ibu pertiwi yang nota bene tak lagi berkemanusiaan. Singkirkan saja mereka dari pangkuan ibu pertiwi ini dan negeriku yang mulia sedari dulu dikagumi seantero dunia”.
“Anda benar anak muda! Kau rajawali muda ibu pertiwi. Tunjukan kebolehanmu dan serukan sajak cintamu hingga ujung dunia”, tegas pak Andre penuh rasa bangga.
Serempak semua teman bertepuk tangan.
Aku bangun dari tempat dudukku. Sembari memberi hormat, aku berseru, “Dan kau negeriku…hari esokmu pasti cerah. Malam segera datang dan membawa badai ini pergi, sebab tunas-tunas muda bangsa sudah seia-sekata. Di tengah badai kami bersajak. Negeri kami bukan negeri badai. Negeri kami bebas korupsi. Untuk kedamaiannya kami berbakti. Untuk sukacitanya kami mengabdi. Tamatnya korupsi tugas mulia kami. Atas nama cinta sejati kami berbakti”.

Sabtu, 23 Maret 2013

NTT Berdemokrasi


 Selamat Berpesta Demokrasi

Hari ini, Senin, 18 Maret 2013, seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) merayakan pesta demokrasi. Karena ini sebuah pesta, saya yakin segenap masyarakat NTT pasti bersorak riang dalam merayakannya. Setiap wajah pasti ceria dan hati saban insan dipenuhi kegembiraan yang tiada duanya. Maklum ini sebuah pesta langka sekaligus unik di bumi Flobamora. Saya menyebutnya langka karena pesta yang melibatkan seluruh masyarakat NTT ini hanya dapat dilakukan setelah lima tahun. Artinya setiap lima tahun barulah diselenggarakan pesta ini. Alasan lain saya menyebutnya langka adalah kesamaan perlakuan untuk semua orang yang datang ke sana. Tidak ada kursi khusus untuk kaum intelek, pejabat dan orang besarnya lainnya di tempat itu. Semua yang datang, entah itu rakyat biasa, ataupun pejabat, termasuk orang-orang khusus yang diayubahagiakan mendapat perlakuan yang sama. Sementara itu, keunikannya terletak pada tiadanya makanan dan minuman, tiada musik dan MC khusus, namun semua orang berbondong-bondong datang dan tersenyum sambil mengambil bagian secara teratur dalam pesta tersebut.
Demikian pesta demokrasi yang dirayakan segenap masyarakat Nusa Tenggara Timur sepanjang hari ini. Bisa jadi ada yang tidak setuju ketika saya menyebut acara hari ini sebagai sebuah pesta karena tiadanya makanan dan minuman, pun musik di sana, tapi saya tetap pada pendirian. Sambil berpijak pada hakekat dari sebuah pesta: kegembiraan seluruh anggota pesta di tengah-tengah orang-orang tertentu yang menajdi fokus pesta, saya menyebut pemilihan gubernur dan wakil gubernur hari ini sebagai sebuah pesta. Semua orang dalam kebebasannya sebagai warga masyarakat datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) masing-masing. Atas dasar kebebasannya, setiap warga yang telah memenuhi syarat pemilihan tersenyum gembira sambil menjatuhkan pilihan bagi salah satu calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) dari lima pasangan cagub-cawagub yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTT. Tindakan memilih seperti ini menjadi kegiatan pokok dari pesta itu. Itulah pesta demokrasi yang saya sebut sebagai pesta langka dan unik.
Sekalipun pestanya singkat karena hanya mencontreng gambar salah satu cagub dan cawagub lalu sesudah itu memasukan gambar tersebut ke dalam kota pemilihan yang telah disiapkan petugas TPS dan selesai, namun saya tetap mengatakan ini sebuah pesta terakbar sepanjang lima tahun dan sangat penting. Contreng singkat itu memastikan bahagia dan tidak bahagianya masyarakat Flobamora selama lima tahun ke depan. Karenanya ia tidak bisa dianggap remeh. Dalam hal ini, segenap masyarakat NTT yang berpesta tidak boleh sekedar memilih. Mereka harus memilih dengan tulus dan iklas. Dalam tingkatan yang lebih bermartabat, saya mau katakan bahwa mereka harus memilih sebagai seorang warga negara yang bermartabat, sehingga ia tidak bisa mendasarkan pilihannya pada suku, agama, ras, golongan, bahkan partai sekalipun. Apalagi kalau  mereka memilih calon tertentu dengan iming-iming jabatan, uang dan berbagai jaminan lainnya. Membantu setiap pembaca memikirkan lebih jauh alasan pernyataan ini, saya boleh bertanya: Adakah harga diri anda dan saya lebih rendah dari sejumlah rupiah dan jabatan tertentu? Mungkinkah dengan fanatisme religius dan primordialisme dalam memilih calon tertentu, anda dan saya benar-benar tampil utuh sebagai warga masyarakat NTT yang baik? Adakah memilih dengan pendasaran seperti itu, anda dan saya benar-benar bergembira di hari istimewah ini?
Terlepas dari jawabanmu, saya berani katakan, yang menjatuhkan pilihan dengan iming-iming tertentu tidak pernah mengalami kegembiraan sejati dalam pesta demokrasi ini. Juga yang  memilih berdasarkan fanatisme religius, suku, dan golongan partainya, pasti tidak benar-benar bersukacita di hari ini. Bayangkan saja, kalau ia seorang fanatik figur protestan (karena ia adalah seorang protestan yang sangat fanatik) berada persis di TPS yang mayoritasnya non Protestan, adakah ia akan tersenyum di sana? Bukannya dengan wajah yang tak jelas ia mencotreng di TPS tersebut lalu sesudah itu cepat-cepat ia kembali ke rumahnya karena tidak nyaman berada di tempat itu? Ini baru saat pencoblosan. Bisa dibayangkan lagi bagaimana ia akan stress selama lima tahun kalau yang memenangkan pemilihan tersebut adalah figur non protestan. Contoh lain lagi, anda dan saya bisa merasakan bagaimana tekanan batin seorang pemilih yang fanatik figur Timor, manakala sesudah pemilihan itu, gubernurnya berasal dari daratan Flores. Jika demikian, bagaimana seharusnya seorang pemilih merayakan pesta demokrasi ini?
Tidak lain dan tidak bukan, ia memilih berdasarkan suara hatinya. Ia memilih dengan bebas sebagai seorang warga negara yang matang. Tentu dalam kebebasannya, ia harus melibatkan budi yang cemerlang dan hati nurani yang aktif sehingga pilihannya tepat. Ia memilih figur yang berkepribadian mulia. Figur yang dipilih adalah yang benar-benar berbudi cemerlang, berhati nurani, berkata benar dan jujur, serta bertindak bijak dalam segala situasi. Figur yang dipilih semestinya figur yang berbadan dan berjiwa. Sengaja saya menyebut badan dan jiwa untuk menghentak setiap pemilih agar bisa kritis dalam menentukan pilihannya sehingga yang dipilih adalah dia yang tidak hanya sibuk dengan hal-hal materi sampai lupa menyediakan waktu bagi Tuhannya. Sejenak untuk direnungkan, figur mana yang semasa kampanye dan juga debat itu sempat menyinggung tentang bagaimana upaya kerja sama dengan institusi religius demi meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat NTT yang menurut Departemen Agama dibilang sebagai propinsi agamais? Maaf tidak bermaksud mencapuradukan agama dalam urusan pemerintah, namun kalau mau berpikir lebih seimbang, warga masyarakat juga adalah warga gereja/umat Allah sehingga pemeritah tetap punya tanggung jawab untuk hal ini.  Bersamaan dengan hal ini, kemampuan para figur  saat berkampanye selama masa kampanye dan kesanggupan mereka berdebat tertanggal 14 Maret 2013 di Aula El Tari Kupang sebagaimana disiarkan langsung oleh TVRI Nasional bisa menjadi referensi penilaian setiap pemilih hingga dapat memutuskan, figur mana yang paling tepat untuk memimpin Flobamora lima tahun ke depan.
Nah, itu untuk para pemilih yang siap merayakan pesta demokrasi. Bagaimana dengan mereka bersikap acuh tak acuh atau atas kesadarannya mengambil sikap ekstrim, golput (golongan putih) alias tidak ikut memilih?  Adakah mereka adalah warga negara yang baik? Hemat saya tidak! Sekalipun mereka mengatakan kami tidak memilih karena diantara kelima calon tersebut, satu pun tidak pantas kami pilih, saya tetap menegaskan bahwa mereka sedang mengangkangi eksistensi sebagai seorang warga negara, bahkan sebagai seorang manusia. Meminjam ungkapan, St. Thomas Aquinas, seorang teolog sekaligus filsuf politik abad pertengahan, ‘manusia sesungguhnya adalah binatang sosial dan binatang politik’ (social and politic animal). Sebagai makhluk sosial, wajib hukumnya untuk berdinamik sebagai makhluk sosial. Demikian pula sebagai makhluk politik, ia terikat kewajiban mutlak untuk terlibat dalam dunia politik. Secara khusus dalam kaitan dengan pemilihan kepala daerah ini, ia terikat kewajiban untuk ikut bagian dalam pesta demokrasi ini. Ia harus datang mencoblos di TPS yang ada, sekiranya ia sudah sah menurut Undang-Undang Pemilu untuk memilih, dan bukannya mengambil sikap malas tahu atau golput.
Hanya dengan mengikuti pesta demokrasi ini, ia mengafirmasi dirinya sebagai manusia politik yang utuh. Sekiranya lima pasangan itu tiada satu pun yang diidealkan, yakinlah suara hati sebagai subjek politik akan menolongmu untuk memilih salah satu dari kelima calon tersebut sebagai figur yang bisa diandalkan untuk memilih NTT lima tahun ke depan. 
Dengan nada evokatif bagi sesama saya yang sedang acuh tak acuh dan terutama yang hendak golput agar segera berkesadaran sebagai makhluk politik, saya mengucapkan selamat berpesta demokrasi bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur. Ini hari istimewah seluruh masyarakat NTT. Tidak ada pilihan lain untuk menghindar dari pesta langka dan unik ini. Sekalipun pestanya tidak menyediakan makanan dan minuman, pun musik yang gegap gempita, mari menggabungkan diri dengan sesama yang lain di hari bersejarah ini. Kunjungi TPS terdekatmu dan jatuhkan pilihan yang tepat. Itu pilihan singkat yang bernilai kehidupan untuk lima tahun ke depan. Pastikan anda dan saya puas, gembira dan berbahagia, bebas dan tanpa tekanan apa pun dalam menentukan pilihan sebagai seorang pemilih yang bermartabat. Ini bukan pesta siapa-siapa. Ini pesta seluruh rakyat Nusa Tenggara Timur. Tersenyum sedetik dalam mencontreng figur terbaikmu agar nantinya engkau dan saya dihantar menuju pangkuan bumi Flobamora yang adil, makmur dan sejahtera. 

Kamis, 21 Maret 2013

Sejenak Bermenung


Sesat itu Berbahaya!
Inspirasi: Mrk.9:42-48

Pencinta kolom religius Timor Express yang berbahagia. Kaum beriman Katolik sedang berada di masa suci, puasa agung selama 40 hari. Di masa ini mereka diminta bunda Gereja untuk melakukan puasa dan pantang, doa, derma dan amal sebagai bagian dari upaya rekonsiliasi dirinya dengan Tuhan dan sesama. Dengan kata lain, masa empat puluh hari ini merupakan masa penataan diri dalam kekuatan roh Allah demi keutuhan hidup sebagai citra Allah di hadapan Tuhan dan sesama. Dalam sasaran jangka pendek, sesama kita kaum beriman kristiani memaknai masa 40 hari ini sebagai masa persiapan menyongsong masa paskah. Selama persiapan ini, mereka terlibat dalam berbagai kegiatan rohani dan juga kegiatan sosial lainnya sebagai bagian dari upaya silih dosa agar bisa suci lahir dan batin untuk merayakan paskah Tuhannya. Dengan demikian, hari-hari ini menjadi saat yang tepat bagi mereka untuk berbenah diri. Dalam konteks ini saya memilih teks Injil Markus 9:42-48 sebagai dasar permenungan hari ini.
Selain itu, saya juga memilih teks ini, mengingat hari ini adalah H-1 untuk pesta demokrasi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Besok, Senin, 18 Maret 2013, seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur akan mengikuti acara pemilihan gubernur dan wakil gubernur NTT. Terkait dengan perhelatan politik ini, sering marak di kalangan kita, aksi serangan fajar dengan berbagai macam bentuknya demi memenangkan cagub-cawagub tertentu. Dalam konteks ini, saya berbagi renungan dengan teks Markus tersebut.
Pencinta kolom religius Timor Express, teks Markus 9:42-48 berbicara tentang penyesatan. Hal pertama yang disoroti dalam teks tersebut adalah tentang para penyesat kaum beriman. “Barang siapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke laut” (Mrk.9:42). Ada penyesat, ada yang disesatkan. Yang menjadi penyesat adalah mereka yang bertolak belakang dengan Yesus (yang selalu berusaha untuk membunuh Yesus), mereka yang selalu berusaha untuk menghalangi-halangi para beriman dalam pertumbuhan, perkembangan dan perwujudan imannya. Juga yang terkategori penyesat adalah para penguasa yang dengan wewenangnya terus membelokan arah iman umat Allah demi pencapaian kepentingan dirinya, kelompoknya, partainya dan berbagai kepentingan sesaat lainnya yang tidak berdimensi Ilahi. Terhadap mereka ini, Yesus mengatakan, ‘adalah lebih baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada leherna lalu dibuang ke laut’. Ini artinya konsekuensi dari tindakan menyesatkan itu sangat berbahaya untuk si penyesat. Bayangkan kalau pada leher si penyesat itu diikatkan batu kilangan (batu besar yang biasanya dipakai untuk menggiling gandum. Karena begitu besar, maka batu itu biasa digerakan oleh seekor keledai) yang sudah sangat berat lalu kemudian dibuang lagi ke laut. Bukannya ia akan segera tenggelam dan mati konyol dalam laut? Jelas di sini, para penyesat kaum beriman itu tidak bermasa depan. Siapa kiranya mau tampil sebagai penyesat di zaman ini? Silahkan hadapi akhir hidupmu.
Demikian para penyesat dan imbalan dari tindakan konyolnya itu. Lalu bagaimana dengan kelompok yang disesatkan itu? Sudah pasti mereka tidak lagi hidup dalam keutuhan berada sebagai pengikut Kristus. Mereka jadi pengikut orang lain; bisa juga menjadi hamba uang, budak hawa nafsu, gila kuasa, dan pada tingkat yang paling ekstrim, mereka akan meninggalkan imannya dan hidup sebagai kaum ateis. Ungkapan ini secara tidak langsung mengidetfikasi identitas kelomok yang disesatkan itu. Mereka itu adalah pengikut Kristus. Dalam teks Injil Yesus menyebut mereka sebagai ‘anak-anak yang kecil yang percaya’. Yang dimaksudkan di sini tentunya adalah orang-orang kecil dan sederhana, yang dalam kekecilannya itu mengenal dan mengimani Yesus sebagai penyelamatnya. Nah, karena mereka adalah kaum jelata yang juga dalam arti tertentu kurang berpendidikan, maka banyak kali mudah mereka mudah disesatkan oleh para penyesat yang biasanya lebih terdidik dari mereka. Terkadang mereka sedikit tahu bahwa apa yang sedang dilakukan para pemimpin itu tidak benar dan sangat bertentangan dengan kebenaran, kebaikan, keadilan, kedamaian dan terutama imannya, tapi apa daya, mereka tak kuasa menghadapi para pembesarnya itu. Kalau mereka berani bicara, toh suara mereka tak didengar. Sebab para petingginya bergaya kavila, ‘anjing menggonggong, kavila berlari terus’. Kalau suara mereka sempat dengar, tanggapan para penyesat itu justru makin beringas dan liar. Gayanya, bagai api disulut bensin: makin besar nyalanya sesudah mendengar jeritan kaum kecil dan papa itu sehingga kaum kecil yang begitu banyak, habis terbakar dalam tempo seketika. Syukurlah, Yesus, Sang Penyelamatnya sudah berbicara atas nama mereka, mengungkapkan bagaimana para penyesat itu mengalami perlakuan sadis kalau memang mereka terus hidup sebagai penyesat.
Setelah uraian tentang para penyesat dan nasibnya, ayat-ayat selanjutnya (ayat 43-48), berbicara secara khusus tentang kesesatan kaum beriman dalam dirinya sendiri. Bahwasanya, tangan, kaki dan mata yang senantiasa digunakan dalam dinamika hidup setiap orang dapat membawa kesesatan. Terhadap tiga organ yang menyebabkan kesesatan ini, perintah Yesus sangat jelas dan boleh dibilang sangat keras. ‘Kalau tangan menyesatkan, penggallah; kalau kaki menyesatkan, penggallah; dan kalau mata menyesatkan, cungkillah’. Lalu sambung Yesus, ‘sebab adalah lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung, timpang dan bermata satu, dari pada dengan tangan utuh, dua kaki yang utuh, dan bermata dua engkau dicampakan ke dalam neraka yang penuh dengan ulat-ulat bangkai dan api yang tidak terpadamkan’ (lih.Mrk.9:43-48).
Memang tiga organ itu yang disebut Yesus, namun sesungguhnya bukan hanya tiga organ itu yang menyebabkan seorang beriman tersesat. Mungkinkah tangan bisa menyesatkan tanpa keterlibatan organ tubuh lain? Bisakah mata menyesatkan, pun kaki menyesatkan tanpa kesatuan dengan organ lainnya? Seluruh diri, termasuk akal budi dan kehendak bebas sudha pasti terlibat dalam kesesatan itu sehingga dapat dimengerti bahwa dengan menyebut tiga organ itu, sebenarnya Yesus mau menekannya tentang manusia sebagai subjek penyebab kesesatan dirinya. Bukannya ketika tangan, kaki dan mata menghantar seseorang pada kesesatan, orang tersebut sedang aktif bertindak? Karenannya, konsekuensi dari kesesatan itu pula tidak harus dimengerti secara harafiah. Ungkapan tangan dipenggal, kaki dipenggal, dan mata dicungkil itu sebenarnya menegaskan tentang berakhirnya seorang anak manusia kalau ia telah menyesatkan dirinya sendiri. Dengan kata lain Yesus mau mengatakan bahwa kemuridan Yesus melibatkan seluruh diri manusia. Tidak hanya hati atau akal budi saja yang menjadi representasi keberadaan seorang murid, melainkan seluruh diri, termasuk organ tubuh menjadi bagian utuh dan total dari kemuridan Yesus. Menjadi murid Yesus berarti total dan utuh untuk Yesus dalam seluruh ziarah hidup di dunia ini. Sekiranya hanya sebagian saja yang terberi untuk Yesus, sedang yang lain masih ‘digadai’  untuk hawa nafsu, setan dan kekuatan duniawi lainnya yang tak bermasa depan, itu artinya belum total dan utuh seperti Yesus, sang Guru yang teleah terlebih dahulu menunjukkan satu keutuhan berada bagi segenap umat beriman. Sebagai konsekuensinya, yang tidak utuh tak bermasa depan, hilang dari kehidupan.
Dengan ini jelas bahwa, baik penyesat maupun yang tersesat itu tak bermasa depan. Sesat itu berbahaya. Karenanya para penyesat harus bertobat dan kembali hidup sebagai pengarah, penuntun, pembimbing kepada kehidupan. Tidak hanya sampai di situ, mereka harus sungguh menjadi teladan, tokoh panutan bagi kaum beriman kristiani agar dalam kekecilan dan kesederhanaanya, para beriman sanggup menjumpai Yesus dan menyatu dengan-Nya hingga keabadian. Sementara itu, untuk kaum beriman sejati: teguh dalam iman dan kokoh dalam pengharapan sehingga tidak terjerat perangkap para penyesat. Sekiranya sedang berada di jalur sesat, segera berbalik haluan dan kembali ke pangkuan kasih Ilahi dengan tekad yang kokoh: seluruh diri hanya untuk Tuhan. Ini masa tobat, masa kembali pulang dengan seluruh diri untuk Tuhan kita sehingga nantinya kita layak merayakan paskah Tuhan.
Sembari mengucapkan selamat meniti perjalanan pulang demi terbebaskan dari ancaman penyesatan yang segera menimpa para penyesat dan kaum sesat, mari berjaga diri agar di saat terakhir menyongsong pesta demokrasi, tiada pun seorang pengikut Kristus yang disesatkan oleh materi dan kuasa, janji-janji muluk dan berbagai tawaran kenikmatan. Lebih lagi, seorang pengikut Kristus, jangan sampai menjadi penyesat bagi orang lain demi mendapatkan sejumlah uang, jabatan dan jaminan tertentu. Rayakanlah pesta demokrasi dalam kemerdekaan sejati sebagai anak-anak Allah. Bersatu dengan Yesus dan jatuhkanlah pilihan yang tepat demi memaknai keutuhan berada sebagai pengikut Kristus. Sssst….sesat itu berbahaya. Total dan utuh hanya untuk Tuhan itu kehidupan kekal.   
*Sehari menyongsong pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur NTT