Minggu, 30 Desember 2012

Selamanya SuperSpeedy Kuasai Dunia



Terima kasih karena Bapak Walikota TelkomCity sudah memberikan saya kesempatan untuk menjadi SuperSpeedy. Saya akan menggunakan tiga kekuatan utama untuk menghadapi alien yang datang mengganggu kenyamanan TelkomCity. Adapun tiga kekuatan utama yang saya gunakan di sini adalah Telkom Speedy, Telkomsel dan Telkom Vision. Dengan tiga senjata pemungkas TelkomCity ini saya pasti menaklukan kelima alien yang hendak mengganggu ketenteraman TelkomCity. Sekalipun kaum alien itu memiliki kehebatan yang luar biasa, mereka akan ditaklukan SuperSpeedy dengan senjata-senjatanya.

Telkom Speedy adalah salah satu kekuatan utama saya yang tak tersaingi siapa pun dan apa pun, termasuk kekuatan yang dimiliki kaum alien. Bayangkan, dalam hitungan detik, dunia dan segala kekuatannya sudah hadir di hadapan saya dan siap untuk digunakan. Siapa mau tuntut bukti. Silahkan gunakan Telkom Speedy dan masuklah dalam dunia internet. Kecepatan loading luar biasa yang dimiliki Telkom Speedy segera membuktikan ungkapan saya tersebut.

Nah, Telkom Speedy telah menghadirkan dunia dan segala kekuatannya untuk saya. Tugas saya sebagai sang hero adalah memilih yang terbaik untuk saya gunakan demi menghancurkan kekuatan alien. Selain itu dengan Telkom Speedy saya bisa membangun relasi dengan teman-teman sekota TelkomCity untuk berbagi ide dan strategi jitu bagaimana menaklukan musuh-musuh TelkomCity. Dalam hitungan detik seluruh penghuni kota TelkomCity bisa berjumpa dengan saya, entah melalui facebook atau twitter atau media komunikasi sosial online lainnya dan dalam hitungan detik pula kami berbagi ide dan menemukan solusi tepat untuk menaklukan para alien. Sebab kata orang, tot capita tot sensus - banyak kepala, banyak ide. Artinya kalau seluruh penghuni kota TelkomCity sudah berjumpa dalam dunia maya, niscaya banyak kepala hadir di sana dengan beragam ide. Tentunya banyak ide ini tidak membingungkan saya sebagai Super Speedy dalam menemukan solusi tepat karena kami memiliki kesamaan cita-cita: Senantiasa mengabdikan diri untuk kenyamanan TelkomCity sehingga ide-idenya pasti selalu mengarah ke sana.

Kemampuan komunikasi ini didukung senjata lainnya, yakni telkomsel. Dengan telkomsel, jaringan komunikasi yang paling mantap dan paling murah saya dapat berkomunikasi dengan sesama saya, entah dalam kota TelkomCity maupun di luar kota istimewah tersebut. Siapa tidak percaya?

Segera miliki kartu As dan Simpati seperti saya dan mari kita membuktikannya. Dengan menggunakan kartu As dan Simpati sudah pasti anda siap memakai senjata Telkomsel yang sangat ampuh. Sudah pasti kualitas jaringannya tidak diragukan lagi. Di pedalaman Timor Indonesia yang berbatasan dengan negara baru Timor Leste sekalipun, anda tetap berada pada zona aman dalam hal jaringan kalau anda menggunakan jaringan super hebat Telkomsel. Selain jaringan berkualitas yang anda dan saya nikmati, niscaya anda juga akan menikmati tarif murah dan limpahan paket promo tak habis-habisnya dari telkomsel. Saya sendiri merasakan betapa untungnya menggunakan telkomsel. Dengan kartu As saya mendapatkan 1000 sms/hari hanya dengan biaya seribu rupiah saja dan dengan kartu Simpati saya dapatkan talkmania, Combo Mania yang bisa memberi saya kemungkinan untuk tukar menukar informasi dan berita penting dan bicara langsung dengan sesama penghuni TelkomCity maupun orang-orang di luar wilayah TelkomCity. Melalui tindakan-tindakan yang ditopang oleh telkomsel, saya sudah memiliki kepastian untuk menemukan solusi terbaik atasi berbagai ancaman yang ditimbulkan oleh kaum alien. Bahkan dengan program talkmania saya bisa bicara lebih lama dengan rekan-rekan saya dan menemukan berbagai tindakan antisipatif tepat sasar terhadap aneka serangan yang bakal menimpa kota kami, TelkomCity.

Selanjutnya dengan senjata Telkomvision, saya memiliki akses yang lebih besar dengan dunia luar dalam rangka menemukan cara-cara jitu yang mungkin dimainkan oleh dunia luar dalam menghadapi aneka ancaman yang menimpa dirinya. Berbagai film menarik dan hiburan mendidik sekaligus inspiratif dapat anda saksikan secara langsung dan aman dengan telkomvision. Selain itu, melalui kekuatan yang satu ini kami pun bisa mempromosikan dan mempublikasikan kehebatan segenap penghuni kota TelkomCity dalam menghadapi aneka serangan dari dunia luar, entah itu dalam bentuk iklan produk TelkomCity maupun dalam bentuk film documenter. Siapa tidak yakin? Saya sebagai Super Speedy membuktikan kebenaran ini.

Supaya pembuktian saya tidak sebatas kata-kata, saya mengajak anda menggunakan televisi berlangganan satelit telkomvision. Ada delapan puluh chanel yang disiapkan telkomvision  untuk para penggunanya. tarifnya murah, hanya Rp.60.500,-/bln. Bahkan parabola, dekoder, remote dan kabel gratis dipinjamkan selama berlangganan.

Tiga kekuatan utama di atas saya gunakan secara efektif dalam menghadapi kelima musuh yang hendak menghancurkan kota TelkomCity. Mereka tak berdaya di hadapan aksi SuperSpeedy. Fakta, mereka takluk di hadapan saya sebagai Super Speedy.

Demikian saya menjadi SuperSpeedy  di kota TelkomCity. Bahkan dengan tiga kekuatan di atas saya bisa menjadi penguasa dunia. The world in my hand, ketika saya menggunakan Telkom Speedy, Telkomsel dan Telkomvision. Anda mau seperti saya. Silahkan bergabung sekarang juga dalam kota TelkomCity. Gunakan produk-produknya secara efektif dan jadilah Pahlawan hebat tak terkalahkan, SuperSpeedy. Manfaatkan produk-produk unggulan TelkomCity dan anda sekaligus menjadi SuperSpeedy dan the world in your hand. Yuk. Buruan gabung. Jangan sampai ketinggalan kereta. Salam SuperSpeedy untukmu semua. Alien lenyap dengan kekuatannya. Selamanya Superspeedy kuasa dunia.






Sabtu, 29 Desember 2012

Fajar Pun Merekah



Malam makin larut. Situasi sekitar rumah makin sunyi.  Kakak Ryan yang semenjak tadi asyik bermain gitar bersama teman-temannya di beranda rumah telah mengasingkan diri. Ibu yang biasa mengajari saudariku bagaimana membuat taplak meja dari benang wool pun telah pergi ke pembaringan. Ayah yang selalu melatih si bungsu bagaimana menulis indah pun telah berhenti beraktivitas. Semua yang ada di rumah telah tertidur, kecuali aku dan kakek.
Walau malam telah mencekam, kakek masih saja bersemangat dalam menuturkan kisahnya. Sebagai cucu yang baik, aku pun tak mau mengecewakan kakek. Aku mendengarkan kisahnya dengan penuh antusias. Setiap kata yang diucapkannya kuikuti dengan cermat. Kisahnya sungguh menarik dan mengesankan.
“Andre, cucuku… ini bukan kisah fiktif. Ini bukan pula sebuah ceramah dari dosenmu. Ini cerita kehidupan berbingkai pengalaman, berisi mutiara-mutiara indah untuk hari esokmu”, kata kakekku di awal ceritanya.
“Andre, di mata kakek, kamu adalah seekor elang muda nan perkasa”.
“Apa kek, elang muda? Emangnya aku punya sayap sehingga dibilang elang muda?”, tanyaku pada kakek.
“Tentu, dari segi fisik kamu bukan seekor elang muda. Kamu seorang pemuda tampan yang sungguh menggemaskan dunia. Namun kalau kakek melihat gaya hidup dan semangatmu, kakek boleh menyebut kamu sebagai seekor elang muda”.
“Maksud kakek?”
Sambil memandang diriku penuh kegembiraan, kakek berkata, “Seekor elang yang terkategori sebagai elang muda tidak pernah akan diam di tempatnya. Selalu saja muncul keinginan dalam dirinya untuk terbang, dan terus terbang dari satu tempat ke tempat lainnya. Energi yang begitu penuh di dalam dirinya terus mendorongnya untuk mengangkasa, agar sayapnya makin hari makin kuat sehingga nantinya ia bisa bertahan melawan ganasnya prahara di hari esok, dan tentunya ia terbang nun jauh di atas sana agar bisa melihat keindahan terdalam dunia secara utuh. Dan inilah kiranya impian terdalam dari seekor elang muda. Bahkan kalau seekor  elang muda dapat berbicara, maka ketika ditanya tentang apa artinya hidup baginya, mungkin ia akan menjawab: “Bagiku, hidup adalah terbang dan terus terbang dengan kedua sayapku sedemikian, hingga aku sanggup melihat keindahan terdalam dunia secara pasti lalu menukik turun secara tepat untuk mengambilnya, dan kemudian membawanya pergi sebagai milikku untuk selamanya”.
“Andre, itu kehidupan seekor elang yang hanya hidup menurut insting dan apa adanya dia sebagai seekor binatang unggas di alam raya ini. Dan kamu? Yah…sudah ku bilang tadi kalau kamu seekor elang muda nan perkasa. Sebagaimana seekor elang muda tiada pernah lelah terbang dari satu tempat ke tempat lainnya, demikianlah kamu. Kelolalah energi mudamu secara baik, sehingga kamu dapat terbang dengan sayap-sayapmu secara seimbang untuk menemukan yang terdalam dari kehidupan ini dan segeralah bawa pulang ke pangkuan pertiwi agar kamu bahagia, negerimu tenteram, bangsamu mulia dan Allahmu diagungkan. Jangan biarkan sayap budimu terus terkungkung kebodohan, jangan biarkan sayap hatimu terus tertutup di tengah keluh-kesah orang-orangmu. Kembangkan keduanya selebar mungkin dan kebaskan sekuat tenaga agar kamu segera mengangkasa sehingga sanggup melihat dengan pasti kedalaman hidup ini, dan teristimewa sanggup mencermati negerimu ini secara bijaksana, sehingga ketika saatnya tiba untuk menerima tongkat kepemimpinan dari ibu pertiwi, kamu sanggup menghantar ibu pertiwi menuju kepenuhannya”, tegas kakek sambil memegang pundakku.
“Terima kasih kakek atas kata-kata indahnya. Serasa mau terbang malam ini menuju angkasa. Aku tahu, kakek menghendaki agar aku dapat menjadi yang terbaik di hari esok bagi negeriku yang menurut kata orang telah berada di ambang kehancuran. Tapi kakek, aku harus insaf kalau aku tidak akan pernah sanggup menggapai apa yang kakek impikan”.
“Apa? Tidak sanggup? Mengapa harus kalah sebelum berperang, wahai kamu pemuda tampan nan perkasa? Tidak! Kamu harus katakan pada dirimu kalau kamu sanggup membawa bangsamu, bangsaku, bangsa kita  menuju cita-cita luhurnya!” 
“Kek, aku boleh yakin seperti itu, tapi aku harus berpikir riil pula. Kakek tahu kalau realitas bangsa kita lagi tidak nyaman dari berbagai segi kan? Kakek juga tahu kalau para pemimpin bangsa ini sudah berjuang sekuat tenaga namun tiada tanda-tanda menuju yang lebih baik kan? Nah…dalam keadaan yang demikian, aku yang sekecil ini diharapkan untuk menjadi penyelamat? Tidak! Tidak kakek! Maafkan aku kek, aku dan rekan-rekan seusiaku tidak sanggup menghantar bangsa ini menuju yang lebih baik. Maklum kek, kami tidak punya triliunan rupiah untuk melunasi utang bangsa kita yang kian membengkak; Kami tidak miliki ratusan triliun untuk memperbaiki  nasib jutaan rakyat kecil kita yang menurut data pemerintah masih berada di bawah garis kemiskinan. Kakek tolong mengerti keadaan cucumu, juga rekan-rekan seusia Andre. Jangan letakan pada pundak kami beban yang lebih berat dari kemampuan yang kami miliki”.
“Ha…ha… anak muda. Aku bangga kalau engkau sadar akan siapakah sesungguhnya engkau. Aku bahagia kalau selama ini engkau selalu mengikuti perkembangan bangsa kita. Engkau menyebut dua hal yang kini menjadi momok terbesar bangsa kita: utang luar negeri dan kemiskinan. Ini menandakan bahwa cucuku peduli dengan keadaan ibu pertiwi. Lebih dari itu Andre telah melakukan satu langkah maju untuk bangsa ini. Berbahagialah ibu pertiwi yang telah melahirkan Andre. Sungguh harus kukatakan sekarang kalau Andre, dan juga rekan-rekan akan segera menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukannya.”
“Bisakah kakek berhenti berironi? Atau aku pamit dari hadapan kakek dan segera pergi tidur agar masalah perbedaan pendapat ini terselesaikan?”
“Hmmm….. cucuku, janganlah kiranya engkau berpikir kakek menyindir dirimu. Kakek sama sekali tidak menyinis keberadaanmu, juga tentunya rekan-rekan seusiamu. Tiadalah guna kakek berbuat demikian untukmu cucuku”.
“Terus?”
“Yah….demi keberadaanmu sebagai yang terbaik bagi ibu pertiwi, kakek berani berbicara demikian. Demi kebahagiaan ibu pertiwi di hari esok, kakek menanamkan rasa optimis yang begitu besar dalam dirimu sejak dini, biar nanti Andre tidak dibilang pemuda tampan tiada arti, bunga bangsa tiada nilai, elang muda tiada nama, generasi pembeban bangsa dan sebagainya. Kakek hanya ingin agar nantinya kamu disebut sebagai pahlawan bangsa, patriot bangsa nan perkasa, garuda muda penyelamat bangsa”.
“Aku memahami semuanya itu kakek. Tapi aku harus bagaimana? Bangsa ini begini besar kakek, sedang aku…?”
“Tenanglah cucuku. Tidak perlu memikirkan tentang bangsa yang besar dengan segala persoalannya. Cukupkanlah dirimu sekarang untuk sadar kalau kamu adalah seekor elang muda bangsa ini. Itu bagi kakek sudah cukup”, pinta kakek penuh harap.
“Yah, kek. Aku adalah eekor elang muda yang siap terbang kapan saja. Bahkan, aku adalah seekor pejantan yang sementara berkokok dari atas rimbunan beringin guna menyadarkan seluruh persada ini, secara khusus rekan-rekan seangkatanku untuk segera bergegas menuju medan bakti sebab hari baru telah dimulai”, tegasku pada kakek disela-sela kokok ayam-ayam jantan dari atas lumbung tempat kami bercerita.
“Bagus…! Bagus..! Kakek bangga punya cucu seperti ini. Karena Andre telah sadar siapa sesungguhnya Andre, kakek mau bagikan kisah ini buat Andre”.
“Kisah apa itu kakek? Katakanlah!”, kataku singkat.
“Semasa muda kakek, situasi dan kondisi negeri ini tidaklah seperti sekarang. Setidaknya saat kakek lagi naik-naik daun seperti kamu, bangsa kita sedang dalam keadaan terjajah. Sebagai bangsa yang sedang terjajah, segala sesuatu tidak dapat dibuat semau gue. Semua diatur oleh penjajah. Dinamika hidup bangsa dikontrol ketat oleh penjajah. Dalam keadaan yang demikian, sengsara, derita dan kematian menjadi warna khas kehidupan anak-anak negeri. Tiada hari yang terlewatkan tanpa ratap tangis dan cucuran air mata, lantaran sengsara, derita dan kematian terus memburu anak-anak ibu pertiwi.
Yah…situasi negeri kala itu sungguh menyakitkan. Tapi mau bagaimana lagi. Beberapa kelompok kecil masyarakat coba melakukan perlawanan terhadap penjajah agar bisa membebaskan diri dari belenggu penindasan, tapi apa artinya kelompok kecil itu bagi sepasukan tentara penjajah yang bersenjata lengkap? Apa artinya sebatang bambu rucing di hadapan satu tank militer Belanda dan Jepang?
Melihat kenyataan ini, kebanyakan  masyarakat kita lebih memilih sikap diam dan perlahan-lahan menenangkan diri dengan istilah ‘takdir’. ‘Takdir kami sudah seperti ini. Kami tidak bisa berbuat lebih untuk membebaskan diri dari tangan-tangan serdadu’, begitu kiranya kalimat-kalimat pendek penenang bagi jiwa-jiwa yang sedang merintih kesakitan.
Tapi…tapi itu, sekelompok kecil elang muda bangsa ini tidaklah demikian. Mereka sama sekali tidak terjerat sedikit pun dengan ungkapan takdir kebanyakan orang kala itu. Bagi mereka, setiap orang sesungguhnya adalah orang merdeka dan lebih dari itu tidak ada seorang pun di dunia ini yang tertakdir untuk menjadi penjajah abadi. Sehingga apapun yang terjadi, bangsa Indonesia harus segera dimerdekakan dan konsep penjajah harus dihapuskan dari muka bumi ini. Ini komitement elang-elang muda itu sesaat setelah mereka mengenali siapakah diri mereka yang sesungguhnya.
Pengenalan dan komitment ini mengobarkan semangat masa mudanya. Sehingga mereka senantiasa terbang kian-kemari, entah siang, entah malam, entah hujan, entah panas, entah situasi bersahabat atau pun tidak bersahabat demi menamatkan penjajah dan segala aksinya dari muka bumi Indonesia. Dan aksi mereka tidaklah sia-sia. Setidaknya tahun 1908, sepak terjang mereka bagai elang muda itu mulai menampakkan hasil. Sebuah organisasi pemuda berdimensi nasionalis diproklamasikan. Yah…pada tahun ini, Boedi Oetomo didirikan. Dengan ini, para pemuda mulai mengorganisir diri secara baik. Dan perlu Andre ketahui kalau mereka memulai perkumpulan itu tanpa sepeser pun. Yang mereka jadikan sebagai modal adalah kesadaran akan siapakah mereka yang sesungguhnya. Tentang berbagai kesulitan yang nantinya dihadapi terkait organisasi ini tatkala diketahui penjajah tidaklah mereka pedulikan. Yang ada di kepala mereka adalah dengan organisasi ini, para pemuda Indonesia bangkit dari tidurnya dan segera membebaskan bangsanya dari tangan penjajah. Ini komitment bersama mereka yang tidak pernah goyah, yang selalu mereka sadari entah di waktu tidur maupun di waktu beraktivitas.
Dengan oragisasi itu, mereka mengatur strategi bagaimana menghadapi penjajah. Berbagai ide mereka ungkapkan dalam pertemuan-pertemuan organisasi itu, berbagai tindakan ditempuh. Dan selanjutnya pada tahun 1928, mereka menemukan cita-cita luhurnya. Berbagai ide yang selama ini mereka wacanakan, berbagai aksi mereka selama sekian tahun dikristalkan dalam suatu sumpah, yang kemudian kita kenal sebagai sumpah pemuda. Dalam sumpah yang mereka ikrarkan tanggal 28 oktober 1928, para pemuda Indonesia menyatakan kalau mereka satu tanah air, yakni tanah air Indonesia, satu bangsa, yakni bangsa Indonesia, dan berbahasa satu yakni bahasa Indonesia.
Semboyan ini menyulut seluruh diri pemuda Indonesia kala itu, termasuk kakek. Karena itu, ketika diminta untuk melakukan latihan kemiliteran di pulau Jawa dalam rangka memperkuat angkatan perang bangsa kita, kakek tidak canggung-canggung mengikutinya. Dan alhasil, kakek terpilih sebagai anggota pasukan khusus Indonesia untuk menghadapi penjajah. Perlawanan demi perlawanan kami alami. Banyak rekan harus kehilangan nyawanya, kami tidak gentar sedikit pun. Meminjam ungkapan Charil Anwar, “…Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang, menerjang, luka dan ku bawa berlari, berlari hingga hilang pedih, perih”.
Itulah semangat kami di masa itu. Kami berjuang dan terus berjuang tanpa kenal lelah. Dan hasilnya apa?
Tanggal 15 Agustus 1945, ketika sahabat-sahabat kami, Wikana, Sayuti Melik, Sukarni, Chaerul Saleh, Johan Noor mendengar bahwa Jepang telah diporak-porandakan oleh Amerika, cepat-cepat mereka melakukan pertemuan dan segera menculik Soekerno-Hatta agar dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kedua tokoh ini dapat memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan terjadilah demikian. Tanggal 16 Agustus 1945, elang-elang muda ini menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok dan meminta kedua tokoh nasional ini segera   memproklamasikan kemerdekaan ibu pertiwi. Banyak diskusi dan pertimbangan dilontarkan Ir. Soekarno dan Drs. Mohamad Hatta, namun elang-elang muda nan perkasa itu tak mau peduli dengan semuanya itu. Yang mereka inginkan hanyalah satu, yakni: segera bacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ibu pertiwi harus dimerdekakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dan setelah melalui diskusi yang cukup a lot, kalangan muda pun memenangkan diskusi itu. Sehingga, keesokan harinya, tanggal 17 Agustus 1945, ketika fajar merekah di ufuk timur, fajar itu pun merekah untuk Indonesia. Fajar kemerdekaan bangsa membias ke segala penjuru dunia. Bangsa Indonesia telah menjadi bangsa merdeka, bersamaan dengan pengumandangan Proklamasi Kemerdekaan yang dilakukan oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohamad Hatta, dari jalan Penggangsaan Timur 56 Jakarta.
Andre, bangsa kita merdeka karena kegigihan perjuangan kaum muda. Ketika kaum muda beraksi, memang fajar pun merekah. Tapi kakek harus akui kalau fajar yang merekah itu tidak lagi nampak jelas di masa kini. Kakek tidak tahu, siapa dalang dari semuanya. Kakek tidak tahu. Tapi kakek mau gariskan kebenaran ini kepadamu”.
“Kebenaran apa itu, kakek?”
“Fajar kemerdekaan terbit atas bangsa kita karena inisiatif dan proaktif kaum muda!”.
“Jadi, kakek menghendaki aku dan rekan-rekan seusiaku harus bahu-membahu mengembalikan fajar kemerdekaan itu secara jelas dalam persada ini?”
“Terima kasih, elang muda. Engkau telah mengatakannya. Fajar pembebasan dalam segala dimensinya harus merekah dengan pasti ketika engkau dan rekan-rekanmu beraksi di atas panggung persada ini. Sebentar lagi, kakek pasti hilang dari persada ini. Namun, mutiara-mutiara terindah yang telah kakek berikan kepadamu dari tadi hingga detik ini kiranya engkau hidupi dan hayati dalam masa muda ini, sehingga keberhasilan kakek dan rekan-rekan muda lainnya di era penjajahan dan awal kemerdekaan boleh dinikmati lagi ibu pertiwi di zaman ini”.
“Aku elang muda milik ibu pertiwi siap beraksi. Aku pejantan dari timur siap berkokok. Aksi ku bukan aksi-aksian; kokok ku bukan kokok-kokokan. Aku beraksi, aku berkokok, fajar pun merekah. Bangunlah dari tidurmu wahai anak-anak ibu pertiwi. Saksikan, bangsa kita segera menuju kedamaian, keadilan dan kemakmurannya”.
“Andre, cucuku. Arahkan pandanganmu sekarang ke ufuk Timur. Fajar hari baru telah menyingsing. Kakek mengutusmu ke medan bakti. Selamat berjuang. Wujudkan mimpi-mimpi indahmu. Fajar pun pasti merekah!”, kata kakek sambil meniup ubun-ubunku, tanda restu atas karya dan perjuanganku.  dalam dan melalui hal itu akan diadakan perubahan ke arah ya

Kudedikasikan cerpen ini 
untuk generasi seusiaku yang lagi menata dan menatap masa depannya

Rabu, 19 Desember 2012

Mari menata Masa Depan

Tiada mau mengulur-ulur waktu dan membuang kesempatan. Detik ini adalah kesempatan emas untuk meraih yang terbaik demi masa depan. Mestikah saya menyia-nyiakannya? kalau tidak menyia-nyiakan, mungkinkah saya harus melewatkannya begitu saja?? Adakah saya akan bahagia kalau saya bersama depan suram lantaran tidak mampu mengoptimalkan setiap kesempatan yang ada?

Saya harus menjadi yang terbaik di hari esok. Sejak detik ini saya mengenali diri saya. Selanjutnya saya mengembangkan segala kemampuan yang ada pada saya. Sembari menata akal budi dan hati nurani agar makin cemerlang dan jernih, tak lupa pula saya mengelola dan mengembangkan segala bakat yang ada di dalam diri ini. Di atas semuanya itu, saya menata kepribadian saya agar saya sungguh menjadi manusia berbudi pekerti luhur. 

Semua ini akan berjalan sampai ke tujuan: masa depan cerah, asal saya punya disiplin diri yang tinggi. Saya harus memiliki komitment dan senantiasa konsistent dengan komitment saya untuk menjadi the best di hari esok. Bagaimana saya dapat berdisiplin? Taati aturan dan norma hidup yang berlaku dalam masyarkat dengan tak lupa mentaati perintah dan bisikan suara hati. 

Masa depan cerah akan menjadi milik saya. Saya adalah agen perubahan hari esok. Tiada siapa-siapa yang menjadi agen perubahan nusantara selain setiap kita yang menamakan putera-puteri ibu pertiwi. Salam Merdeka untuk teman-temanku, generasi muda masa depan Bangsa dan Negara. Indonesia jaya! Indonesia Makmur, kala kita tampil sebagai putera-puteri kebebasan. Mari berjuang. Salam Susantara- Salam Merdeka!