Malam makin larut. Situasi sekitar rumah makin sunyi. Kakak Ryan yang semenjak tadi asyik bermain
gitar bersama teman-temannya di beranda rumah telah mengasingkan diri. Ibu yang
biasa mengajari saudariku bagaimana membuat taplak meja dari benang wool pun
telah pergi ke pembaringan. Ayah yang selalu melatih si bungsu bagaimana
menulis indah pun telah berhenti beraktivitas. Semua yang ada di rumah telah
tertidur, kecuali aku dan kakek.
Walau malam telah mencekam, kakek masih saja bersemangat dalam menuturkan
kisahnya. Sebagai cucu yang baik, aku pun tak mau mengecewakan kakek. Aku
mendengarkan kisahnya dengan penuh antusias. Setiap kata yang diucapkannya
kuikuti dengan cermat. Kisahnya sungguh menarik dan mengesankan.
“Andre, cucuku… ini bukan kisah fiktif. Ini bukan pula sebuah ceramah
dari dosenmu. Ini cerita kehidupan berbingkai pengalaman, berisi
mutiara-mutiara indah untuk hari esokmu”, kata kakekku di awal ceritanya.
“Andre, di mata kakek, kamu adalah seekor elang muda nan perkasa”.
“Apa kek, elang muda? Emangnya aku punya sayap sehingga dibilang elang
muda?”, tanyaku pada kakek.
“Tentu, dari segi fisik kamu bukan seekor elang muda. Kamu seorang pemuda
tampan yang sungguh menggemaskan dunia. Namun kalau kakek melihat gaya hidup
dan semangatmu, kakek boleh menyebut kamu sebagai seekor elang muda”.
“Maksud kakek?”
Sambil memandang diriku penuh kegembiraan, kakek berkata, “Seekor elang
yang terkategori sebagai elang muda tidak pernah akan diam di tempatnya. Selalu
saja muncul keinginan dalam dirinya untuk terbang, dan terus terbang dari satu
tempat ke tempat lainnya. Energi yang begitu penuh di dalam dirinya terus
mendorongnya untuk mengangkasa, agar sayapnya makin hari makin kuat sehingga
nantinya ia bisa bertahan melawan ganasnya prahara di hari esok, dan tentunya
ia terbang nun jauh di atas sana agar bisa melihat keindahan terdalam dunia
secara utuh. Dan inilah kiranya impian terdalam dari seekor elang muda. Bahkan
kalau seekor elang muda dapat berbicara,
maka ketika ditanya tentang apa artinya hidup baginya, mungkin ia akan
menjawab: “Bagiku, hidup adalah terbang dan terus terbang dengan kedua sayapku
sedemikian, hingga aku sanggup melihat keindahan terdalam dunia secara pasti
lalu menukik turun secara tepat untuk mengambilnya, dan kemudian membawanya
pergi sebagai milikku untuk selamanya”.
“Andre, itu kehidupan seekor elang yang hanya hidup menurut insting dan
apa adanya dia sebagai seekor binatang unggas di alam raya ini. Dan kamu?
Yah…sudah ku bilang tadi kalau kamu seekor elang muda nan perkasa. Sebagaimana seekor
elang muda tiada pernah lelah terbang dari satu tempat ke tempat lainnya,
demikianlah kamu. Kelolalah energi mudamu secara baik, sehingga kamu dapat
terbang dengan sayap-sayapmu secara seimbang untuk menemukan yang terdalam dari
kehidupan ini dan segeralah bawa pulang ke pangkuan pertiwi agar kamu bahagia,
negerimu tenteram, bangsamu mulia dan Allahmu diagungkan. Jangan biarkan sayap
budimu terus terkungkung kebodohan, jangan biarkan sayap hatimu terus tertutup
di tengah keluh-kesah orang-orangmu. Kembangkan keduanya selebar mungkin dan
kebaskan sekuat tenaga agar kamu segera mengangkasa sehingga sanggup melihat
dengan pasti kedalaman hidup ini, dan teristimewa sanggup mencermati negerimu
ini secara bijaksana, sehingga ketika saatnya tiba untuk menerima tongkat
kepemimpinan dari ibu pertiwi, kamu sanggup menghantar ibu pertiwi menuju
kepenuhannya”, tegas kakek sambil memegang pundakku.
“Terima kasih kakek atas kata-kata indahnya. Serasa mau terbang malam ini
menuju angkasa. Aku tahu, kakek menghendaki agar aku dapat menjadi yang terbaik
di hari esok bagi negeriku yang menurut kata orang telah berada di ambang
kehancuran. Tapi kakek, aku harus insaf kalau aku tidak akan pernah sanggup
menggapai apa yang kakek impikan”.
“Apa? Tidak sanggup? Mengapa harus kalah sebelum berperang, wahai kamu
pemuda tampan nan perkasa? Tidak! Kamu harus katakan pada dirimu kalau kamu
sanggup membawa bangsamu, bangsaku, bangsa kita
menuju cita-cita luhurnya!”
“Kek, aku boleh yakin seperti itu, tapi aku harus berpikir riil pula.
Kakek tahu kalau realitas bangsa kita lagi tidak nyaman dari berbagai segi kan?
Kakek juga tahu kalau para pemimpin bangsa ini sudah berjuang sekuat tenaga
namun tiada tanda-tanda menuju yang lebih baik kan? Nah…dalam keadaan yang
demikian, aku yang sekecil ini diharapkan untuk menjadi penyelamat? Tidak!
Tidak kakek! Maafkan aku kek, aku dan rekan-rekan seusiaku tidak sanggup
menghantar bangsa ini menuju yang lebih baik. Maklum kek, kami tidak punya
triliunan rupiah untuk melunasi utang bangsa kita yang kian membengkak; Kami
tidak miliki ratusan triliun untuk memperbaiki
nasib jutaan rakyat kecil kita yang menurut data pemerintah masih berada
di bawah garis kemiskinan. Kakek tolong mengerti keadaan cucumu, juga
rekan-rekan seusia Andre. Jangan letakan pada pundak kami beban yang lebih
berat dari kemampuan yang kami miliki”.
“Ha…ha… anak muda. Aku bangga kalau engkau sadar akan siapakah
sesungguhnya engkau. Aku bahagia kalau selama ini engkau selalu mengikuti
perkembangan bangsa kita. Engkau menyebut dua hal yang kini menjadi momok
terbesar bangsa kita: utang luar negeri dan kemiskinan. Ini menandakan bahwa
cucuku peduli dengan keadaan ibu pertiwi. Lebih dari itu Andre telah melakukan
satu langkah maju untuk bangsa ini. Berbahagialah ibu pertiwi yang telah
melahirkan Andre. Sungguh harus kukatakan sekarang kalau Andre, dan juga
rekan-rekan akan segera menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukannya.”
“Bisakah kakek berhenti berironi? Atau aku pamit dari hadapan kakek dan
segera pergi tidur agar masalah perbedaan pendapat ini terselesaikan?”
“Hmmm….. cucuku, janganlah kiranya engkau berpikir kakek menyindir
dirimu. Kakek sama sekali tidak menyinis keberadaanmu, juga tentunya
rekan-rekan seusiamu. Tiadalah guna kakek berbuat demikian untukmu cucuku”.
“Terus?”
“Yah….demi keberadaanmu sebagai yang terbaik bagi ibu pertiwi, kakek
berani berbicara demikian. Demi kebahagiaan ibu pertiwi di hari esok, kakek
menanamkan rasa optimis yang begitu besar dalam dirimu sejak dini, biar nanti
Andre tidak dibilang pemuda tampan tiada arti, bunga bangsa tiada nilai, elang
muda tiada nama, generasi pembeban bangsa dan sebagainya. Kakek hanya ingin
agar nantinya kamu disebut sebagai pahlawan bangsa, patriot bangsa nan perkasa,
garuda muda penyelamat bangsa”.
“Aku memahami semuanya itu kakek. Tapi aku harus bagaimana? Bangsa ini
begini besar kakek, sedang aku…?”
“Tenanglah cucuku. Tidak perlu memikirkan tentang bangsa yang besar
dengan segala persoalannya. Cukupkanlah dirimu sekarang untuk sadar kalau kamu
adalah seekor elang muda bangsa ini. Itu bagi kakek sudah cukup”, pinta kakek
penuh harap.
“Yah, kek. Aku adalah eekor elang muda yang siap terbang kapan saja.
Bahkan, aku adalah seekor pejantan yang sementara berkokok dari atas rimbunan
beringin guna menyadarkan seluruh persada ini, secara khusus rekan-rekan
seangkatanku untuk segera bergegas menuju medan bakti sebab hari baru telah
dimulai”, tegasku pada kakek disela-sela kokok ayam-ayam jantan dari atas
lumbung tempat kami bercerita.
“Bagus…! Bagus..! Kakek bangga punya cucu seperti ini. Karena Andre telah
sadar siapa sesungguhnya Andre, kakek mau bagikan kisah ini buat Andre”.
“Kisah apa itu kakek? Katakanlah!”, kataku singkat.
“Semasa muda kakek, situasi dan kondisi negeri ini tidaklah seperti
sekarang. Setidaknya saat kakek lagi naik-naik daun seperti kamu, bangsa kita
sedang dalam keadaan terjajah. Sebagai bangsa yang sedang terjajah, segala
sesuatu tidak dapat dibuat semau gue.
Semua diatur oleh penjajah. Dinamika hidup bangsa dikontrol ketat oleh
penjajah. Dalam keadaan yang demikian, sengsara, derita dan kematian menjadi
warna khas kehidupan anak-anak negeri. Tiada hari yang terlewatkan tanpa ratap
tangis dan cucuran air mata, lantaran sengsara, derita dan kematian terus
memburu anak-anak ibu pertiwi.
Yah…situasi negeri kala itu sungguh menyakitkan. Tapi mau bagaimana lagi.
Beberapa kelompok kecil masyarakat coba melakukan perlawanan terhadap penjajah
agar bisa membebaskan diri dari belenggu penindasan, tapi apa artinya kelompok
kecil itu bagi sepasukan tentara penjajah yang bersenjata lengkap? Apa artinya
sebatang bambu rucing di hadapan satu tank
militer Belanda dan Jepang?
Melihat kenyataan ini, kebanyakan
masyarakat kita lebih memilih sikap diam dan perlahan-lahan menenangkan
diri dengan istilah ‘takdir’. ‘Takdir kami sudah seperti ini. Kami tidak bisa
berbuat lebih untuk membebaskan diri dari tangan-tangan serdadu’, begitu
kiranya kalimat-kalimat pendek penenang bagi jiwa-jiwa yang sedang merintih
kesakitan.
Tapi…tapi itu, sekelompok kecil elang muda bangsa ini tidaklah demikian.
Mereka sama sekali tidak terjerat sedikit pun dengan ungkapan takdir kebanyakan orang kala itu. Bagi
mereka, setiap orang sesungguhnya adalah orang merdeka dan lebih dari itu tidak
ada seorang pun di dunia ini yang tertakdir untuk menjadi penjajah abadi.
Sehingga apapun yang terjadi, bangsa Indonesia harus segera dimerdekakan dan
konsep penjajah harus dihapuskan dari muka bumi ini. Ini komitement elang-elang
muda itu sesaat setelah mereka mengenali siapakah diri mereka yang
sesungguhnya.
Pengenalan dan komitment ini mengobarkan semangat masa mudanya. Sehingga
mereka senantiasa terbang kian-kemari, entah siang, entah malam, entah hujan,
entah panas, entah situasi bersahabat atau pun tidak bersahabat demi menamatkan
penjajah dan segala aksinya dari muka bumi Indonesia. Dan aksi mereka tidaklah
sia-sia. Setidaknya tahun 1908, sepak terjang mereka bagai elang muda itu mulai
menampakkan hasil. Sebuah organisasi pemuda berdimensi nasionalis diproklamasikan.
Yah…pada tahun ini, Boedi Oetomo didirikan. Dengan ini, para pemuda mulai
mengorganisir diri secara baik. Dan perlu Andre ketahui kalau mereka memulai
perkumpulan itu tanpa sepeser pun. Yang mereka jadikan sebagai modal adalah
kesadaran akan siapakah mereka yang sesungguhnya. Tentang berbagai kesulitan
yang nantinya dihadapi terkait organisasi ini tatkala diketahui penjajah tidaklah
mereka pedulikan. Yang ada di kepala mereka adalah dengan organisasi ini, para
pemuda Indonesia bangkit dari tidurnya dan segera membebaskan bangsanya dari
tangan penjajah. Ini komitment bersama mereka yang tidak pernah goyah, yang
selalu mereka sadari entah di waktu tidur maupun di waktu beraktivitas.
Dengan oragisasi itu, mereka mengatur strategi bagaimana menghadapi
penjajah. Berbagai ide mereka ungkapkan dalam pertemuan-pertemuan organisasi
itu, berbagai tindakan ditempuh. Dan selanjutnya pada tahun 1928, mereka
menemukan cita-cita luhurnya. Berbagai ide yang selama ini mereka wacanakan,
berbagai aksi mereka selama sekian tahun dikristalkan dalam suatu sumpah, yang
kemudian kita kenal sebagai sumpah pemuda.
Dalam sumpah yang mereka ikrarkan tanggal 28 oktober 1928, para pemuda
Indonesia menyatakan kalau mereka satu tanah air, yakni tanah air Indonesia,
satu bangsa, yakni bangsa Indonesia, dan berbahasa satu yakni bahasa Indonesia.
Semboyan ini menyulut seluruh diri pemuda Indonesia kala itu, termasuk
kakek. Karena itu, ketika diminta untuk melakukan latihan kemiliteran di pulau
Jawa dalam rangka memperkuat angkatan perang bangsa kita, kakek tidak
canggung-canggung mengikutinya. Dan alhasil, kakek terpilih sebagai anggota
pasukan khusus Indonesia untuk menghadapi penjajah. Perlawanan demi perlawanan
kami alami. Banyak rekan harus kehilangan nyawanya, kami tidak gentar sedikit
pun. Meminjam ungkapan Charil Anwar, “…Biar peluru menembus kulitku, aku tetap
meradang, menerjang, luka dan ku bawa berlari, berlari hingga hilang pedih,
perih”.
Itulah semangat kami di masa itu. Kami berjuang dan terus berjuang tanpa
kenal lelah. Dan hasilnya apa?
Tanggal 15 Agustus 1945, ketika sahabat-sahabat kami, Wikana, Sayuti
Melik, Sukarni, Chaerul Saleh, Johan Noor mendengar bahwa Jepang telah diporak-porandakan
oleh Amerika, cepat-cepat mereka melakukan pertemuan dan segera menculik Soekerno-Hatta
agar dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kedua tokoh ini dapat
memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dan terjadilah demikian. Tanggal
16 Agustus 1945, elang-elang muda ini menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok
dan meminta kedua tokoh nasional ini segera
memproklamasikan kemerdekaan ibu pertiwi. Banyak diskusi dan
pertimbangan dilontarkan Ir. Soekarno dan Drs. Mohamad Hatta, namun elang-elang
muda nan perkasa itu tak mau peduli dengan semuanya itu. Yang mereka inginkan
hanyalah satu, yakni: segera bacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ibu
pertiwi harus dimerdekakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dan setelah
melalui diskusi yang cukup a lot,
kalangan muda pun memenangkan diskusi itu. Sehingga, keesokan harinya, tanggal
17 Agustus 1945, ketika fajar merekah di ufuk timur, fajar itu pun merekah
untuk Indonesia. Fajar kemerdekaan bangsa membias ke segala penjuru dunia.
Bangsa Indonesia telah menjadi bangsa merdeka, bersamaan dengan pengumandangan
Proklamasi Kemerdekaan yang dilakukan oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohamad Hatta,
dari jalan Penggangsaan Timur 56 Jakarta.
Andre, bangsa kita merdeka karena kegigihan perjuangan kaum muda. Ketika
kaum muda beraksi, memang fajar pun merekah. Tapi kakek harus akui kalau fajar
yang merekah itu tidak lagi nampak jelas di masa kini. Kakek tidak tahu, siapa
dalang dari semuanya. Kakek tidak tahu. Tapi kakek mau gariskan kebenaran ini
kepadamu”.
“Kebenaran apa itu, kakek?”
“Fajar kemerdekaan terbit atas bangsa kita karena inisiatif dan proaktif
kaum muda!”.
“Jadi, kakek menghendaki aku dan rekan-rekan seusiaku harus bahu-membahu
mengembalikan fajar kemerdekaan itu secara jelas dalam persada ini?”
“Terima kasih, elang muda. Engkau telah mengatakannya. Fajar pembebasan
dalam segala dimensinya harus merekah dengan pasti ketika engkau dan
rekan-rekanmu beraksi di atas panggung persada ini. Sebentar lagi, kakek pasti
hilang dari persada ini. Namun, mutiara-mutiara terindah yang telah kakek
berikan kepadamu dari tadi hingga detik ini kiranya engkau hidupi dan hayati
dalam masa muda ini, sehingga keberhasilan kakek dan rekan-rekan muda lainnya
di era penjajahan dan awal kemerdekaan boleh dinikmati lagi ibu pertiwi di
zaman ini”.
“Aku elang muda milik ibu pertiwi siap beraksi. Aku pejantan dari timur
siap berkokok. Aksi ku bukan aksi-aksian; kokok ku bukan kokok-kokokan. Aku
beraksi, aku berkokok, fajar pun merekah. Bangunlah dari tidurmu wahai
anak-anak ibu pertiwi. Saksikan, bangsa kita segera menuju kedamaian, keadilan
dan kemakmurannya”.
“Andre, cucuku. Arahkan pandanganmu sekarang ke ufuk Timur. Fajar hari
baru telah menyingsing. Kakek mengutusmu ke medan bakti. Selamat berjuang. Wujudkan
mimpi-mimpi indahmu. Fajar pun pasti merekah!”, kata kakek sambil meniup ubun-ubunku,
tanda restu atas karya dan perjuanganku. dalam dan melalui hal itu akan diadakan perubahan ke arah ya
Kudedikasikan cerpen ini
untuk generasi seusiaku yang lagi menata dan menatap masa depannya